Hubungan antara kue Bolang-baling, Galundeng, Odading dan Oliebollen

ORANG Yogya dan Solo hampir dipastikan mengenal kue bolang baling. Kue ini biasanya selalu dijual saat ada keramaian seperti pasar malam, Sekatén dan sebagainya. Waktu saya kecil dahulu, rasanya tidak afdol jika sehabis mengunjungi Sekatén di alun alun Utara, Yogya tidak membeli kue ini untuk dibawa pulang.

Sesampai di rumah kue goreng yang terbuat dari gandum bertabur sedikit gula pasir ini, masih hangat dan sangat enak dinikmati dalam kesejukan malam. Saat pertama kali mengunjungi pasar malam di Leiden, Belanda tahun 1983 saya heran melihat ada penjual makanan yang hampir sama dengan kue bolang baling. Kue ini disebut oliebollen. Setelah Lama tinggal di Belanda saya mengerti bahwa tidak hanya saat pesta rakyat di kota Leiden saja, penjual oliebollen hadir, melainkan di setiap acara keramaian di kota lain.

Penjual oliebollen dengan gubuknya yang khas, berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya mengikuti jadwal pasar malam di berbagai tempat. Selain dijual saat ada pasar malam, oliebollen juga merupakan makanan khas musim winter, khususnya saat pergantian tahun. Ketika udara mulai dingin, sekitar akhir bulan Oktober, gubug gubug penjual oliebollen yang berwarna warni mulai tampak di berapa tempat  strategis di berbagai kota. Setelah tahun baru lewat, penjual oliebollen akan menghilang lagi.

BERITA REKOMENDASI