I-4 Dukung Kemenristekdikti Optimalkan Ilmuwan Diaspora

JAKARTA, KRJOGJA.com – Ikatan Ilmuwan Internasional (I-4) mendukung Kemenristekdikti optimalkan peran ilmuwan diaspora dalam membangun jembatan kolaborasi antara ilmuwan dalam negeri dengan ilmuwan diaspora yang tersebar di berbagai penjuru dunia. 

Sebagai bentuk nyata, pada bulan Agustus mendatang I-4 ikut ambil bagian dalam penyelenggaraan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2018. Demikian diungkapkan Ketua Umum I-4, Prof. Deden Rukmana dalam keterangan pers yang diterima KR Rabu (25/7 2018).

Menurut Prof Deden kegiatan SCKD merupakan langkah strategis membangun pendidikan tinggi dan inovasi di Tanah Air dengan cara memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimiliki oleh Indonesia, termasuk ilmuwan diaspora. Bahkan, Prof. Deden yang merupakan ilmuwan diaspora yang berkiprah di Amerika Serikat (AS) ikut merasakan manfaat SCKD yang sudah diinisiasi Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti sejak dua tahun belakang.

"Bagi diaspora kegiatan SCKD ini merupakan wadah berkontribusi dan berbagi, sekaligus berpartisipasi pada pembangunan Indonesia. Sejak penyelenggaraannya tahun 2016, sudah banyak kolaborasi yang dilakukan antar diaspora dan ilmuwan dalam negeri. Acara ini selain sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada segenap anak bangsa, pada sisi lain seperti open market, di mana konsultasi, transaksi, dan negosiasi gagasan akademis dibincangkan," tuturnya.

Berpartisipasi pada kegiatan serupa sebelumnya, Prof. Deden mengatakan bahwa SCKD mendapat tanggapan antusias dari para diaspora Indonesia di seluruh dunia, seperti di Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Jepang dan Australia. Di AS saja, imbuhnya, tercatat 89 ilmuwan diaspora telah bergelar Ph.D., mengajar serta bekerja, baik di universitas maupun lembaga riset di sana. Karena itu, I-4 saat ini tengah mendata potensi diaspora ilmuwan Indonesia di seluruh dunia.

"Angka ilmuwan diaspora ini pasti akan terus bertambah seiring dengan intensitas kami dalam mendata mereka. Kami akan mengajak mereka untuk bersinergi dengan ilmuwan Indonesia di dalam negeri. Ini adalah salah satu misi I-4, yakni memanfaatkan sebesar-besarnya potensi diaspora bagi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan SDM Indonesia, khususnya di perguruan tinggi. Kegiatan SCKD telah memberikan momentum penting bagi I-4 untuk terus menggali potensi ilmuwan diaspora di seluruh penjuru dunia,” terang Profesor Perencanaan dan Studi Perkotaan dari Savannah State University itu.

Prof. Deden mengakui bahwa diaspora Indonesia yang berprofesi sebagai ilmuwan masih jauh, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas jika dibandingkan dengan ilmuwan diaspora China, India atau pun Korea. Kendati demikian, ia mengapresiasi berbagai bentuk kolaborasi riset yang sudah dijalin para ilmuwan diaspora, termasuk kerja sama yang dilakukan secara mandiri di luar kegiatan SCKD. (Ati)

BERITA REKOMENDASI