Indonesia Mendobrak Pasar Kopi Spesialti Australia

Sejak tahun 2020 Dosen Undiknas tersebut telah mempublikasikan penelitian ilmiah mengenai Diplomasi Kopi dibawah Presiden Jokowi (2014-2019). Dari data kualitatif serta berita yang sering disiarkan ternyata Kemlu termasuk kementerian yang aktif mempromosikan diplomasi kopi melalui pameran dan kegiatan business matching di Perwakilan Luar Negeri.

Mengingat peranan universitas adalah untuk mendorong wira-usahawan muda, Anak Agung Mia kali ini merekomendasikan agar kegiatan studi tentang diplomasi kopi dapat dimasukkan dalam program Australia-Indonesia Youth Exchange Program. Bahkan kedua negara dapat menginisiasi bea-siswa melalui jaringan kepemudaan dan organisasi terkait.

Dalam diskusi yang dipandu Duta Besar Bagas Hapsoro tersebut mendengarkan pandangan awal Rebecca Hall tentang usul kerjasama Undiknas tersebut. Disebutkan bahwa Australia mencatat dan akan mempelajari lebih jauh kesadaran tentang pentingnya kopi sebagai bagian dari diplomasi ekonomi dan budaya.

Antusiasme pebisnis

Pembicara lainnya adalah dari kalangan penggiat kopi, yaitu Daryanto Warsita, Ketua Asosiasi Kopi Spesialti Indonesia dan Mikael Jasin, juara barista di tingkat nasional tahun 2019 dan juara dunia barista nomor 4.

Keduanya mengatakan bahwa kopi spesialti akan terus melaju karena tuntutan, kebutuhan dan teknologi. Mikael Jasin secara khusus menyampaikan pengalamannya sebagai barista dan pernah menuntut ilmu di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) di Melbourne.
Ketika ditanya apakah apakah kopi Indonesia tersebut mampu bersaing di tingkat dunia? Mikael Jasin menjawab bahwa Indonesia mampu. Hal ini mengingat industri kopi di Indonesia akhir-akhir ini ini berkembang dengan pesat, dan kualitas-kualitas kopinya pun sudah sangat membaik.
“Namun masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan lakukan tentu saja, membutuhkan pembelajaran dan ketekunan. Pembinaan dan pengawasan mutu juga layak dilakukan dengan bantuan pemerintah, koperasi dan pebisnis, kata Daryanto Warsita.

Acting Konjen RI di Melbourne Muniroh Rahim menyebutkan bahwa Australia khususnya di Victoria adalah destinasi kopi terbaik di Australia. Data Australian Bureau of Statistics (ABS) menunjukkan bahwa pada Buku 2019-2020, Victoria mengimpor kopi dengan total nilai mencapai sekitar AUD 233 juta.
Dari angka tersebut, ekspor Indonesia ke Victoria menduduki peringkat ke-14, mencapai sekitar AUD 3 juta. Tiga negara pengekspor kopi tertinggi di Victoria selama periode tersebut adalah Brasil, Swiss, dan Italia. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai AUD 2,95 juta.

Satu topik yang menjadi perhatian dan telah menjadi keniscayaan adalah perlunya blockchain technology. Pembicara lainnya yaitu Anand Mulani dan Victor dari perusahaan SEEDS telah memaparkan sustainability dari sebuah bisnis kopi dilihat dari perhatian bisnis tersebut terhadap aspek lingkungan dari produksi kopi, yang dibuktikan dengan sertifikasi dan standarisasi. Saat sekarangpun pelaku bisnis harus memastikan bahwa produk kopi mereka dapat dilacak sumbernya hingga ke kebun (dengan dukungan teknologi seperti QR Code ataupun Blockchain).

Diskusi dalam pertemuan tersebut telah berhasil menjaring masukan konstruktif dan menegaskan minat yang tinggi akan kopi spesialti Indonesia di pasar global. Dalam hal ini, para pembicara mendukung penuh langkah tindak lanjut kegiatan diplomasi kopi yang bersifat targeted dan end-to-end utamanya untuk melakukan branding bagi kopi spesialti Indonesia di luar negeri. Pertemuan selanjutnya berupa dialog bisnis yang akan dilakukan oleh Kemlu bekerjasama dengan Perwakilan RI lainnya di Australia dalam waktu dekat. (*)

BERITA REKOMENDASI