Indonesia-Tiongkok Realisasikan Breeding Loan Giant Panda

JAKARTA, KRJOGJA.com – Tahun ini, Indonesia mendapat kehormatan untuk menjadi negara ke-16 yang mendapatkan peminjaman pengembangbiakan (breeding loan) Giant Panda. Inisiasi konservasi satwa ini telah dijalin oleh Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sejak tahun 2010, saat peringatan 60 tahun hubungan diplomatik antara kedua negara.

Disampaikan oleh Pelaksana Tugas  Duta  Besar Tiongkok untuk Indonesia, Mr. Sun Weide, bahwa pemberian Giant Panda ini dapat mempromosikan persahabatan antar Indonesia dan Tiongkok.

“Giant Panda merupakan harta Tiongkok yang terbatas, kerja sama ini sebenarnya sudah dibicarakan sejak tahun 2013 lalu, saat kedatangan Presiden Xijinping ke Indonesia, dan diupayakan untuk mempercepat kerja sama, saat kunjungan Presiden RI Joko Widodo ke Tiongkok pada Maret 2015, saya berharap Giant Panda akan hidup sehat dan bahagia serta membawa kebahagiaan kepada rakyat Indonesia," ungkap Sun Weide.

Upaya ini kemudian ditindaklanjuti melalui penandatanganan Nota Kerjasama (Memorandum of Understanding/MoU) antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah RRT, serta Nota Kerjasama business to business antara PT. Taman Safari Indonesia (TSI), dengan China Wildlife Coservation Association (CWCA), pada tanggal 1 Agustus 2016 di Guiyang, Tiongkok.

TSI juga  telah menyiapkan Rumah Panda Indonesia sesuai dengan kebutuhan Giant Panda agar bisa beradaptasi dengan baik dilengkapi dengan dokter dan tenaga pembersih.

Panda yang akan diterima Indonesia pada Kamis 28 September mendatang dari Tiongkok, merupakan satwa Giant Panda jenis Ailuropoda melanoleuca. Panda tersebut merupakan kategori Appendiks I CITES, dan satwa endemik sekaligus lambang bagi negara asalnya, yaitu Tiongkok.

Menurut masyarakat Tiongkok, terdapat filosofi Yin dan Yang dari fitur bulu yang berwarna hitam dan putih pada panda. Yin dan Yang dipercaya sebagai bentuk keseimbangan bagi masyarakat Tiongkok selama ini. Sifat dasar panda yang lembut, dipercaya sebagaimana Yin dan Yang dapat membawa kedamaian dan keselarasan dalam hidup.

Oleh karena itu, satwa ini seringkali digunakan sebagai hadiah persahabatan dari negara Tiongkok kepada negara-negara sahabat lainnya, juga sebagai salah satu upaya pelestarian Giant Panda di luar habitat aslinya (ex situ).

Sampai saat ini, tercatat 15 negara telah menjalin kerjasama konservasi Giant Panda dengan negara Tiongkok, yaitu Thailand, Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Australia, Jerman, Austria, Spanyol, Inggris, Belgia, Perancis, Belanda, Amerika Serikat, dan Kanada.

Jansen Manansang selaku pemilik TSI, menyambut baik peristiwa ini, dan berterimakasih kepada pemerintah Indonesia maupun Tiongkok, yang telah memilih lembaga konservasi TSI sebagai tempat dikarantinanya kedua panda tersebut.

“Suatu kebanggaan bagi kita dan prestasi. Panda ini merupakan warisan yang harus dijaga dan kembangkan. Saya bangga sekali TSI sebagai lembaga konservasi pertama dan objek wisata nasional untuk menampung Giant Panda,” jelasnya.

Dalam hal ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai pembina Lembaga Konservasi (LK), telah menetapkan PT. TSI sebagai lokasi breeding loan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor. P. 83/Menhut-II/2014, tentang Peminjaman Satwa Liar Dilindungi ke Luar Negeri untuk Kepentingan Pengembangbiakan, kegiatan breeding loan harus berada di bawah pengelolaan LK.

Giant Panda yang akan didatangkan ke Indonesia merupakan pasangan hasil pengembangbiakan CWCA yang lahir pada bulan Agustus 2010 lalu. Kedua panda tersebut berada dalam kondisi sehat, bernama Cai Tao (jantan) dan Hu Chun (betina), dengan berat badan masing-masing sebesar 128 Kg dan 113 Kg.

Kedua panda direncanakan  berangkat dari bandara Chengdu, Tiongkok, dan tiba di Bandara Soekarno Hatta Tangerang Banten pada Kamis 28 September 2017 menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Direkur Kargo Garuda Indonesia Sigit Muhartono juga telah menyiasati rute dari Cheng Du, Tiongkok ke Indonesia demi keamanan dan keselamatan Giant Panda selama di penerbangan.

“Sebelumya kami tidak memiliki rute langsung dari Cheng Du ke Jakarta, maka untuk memperkecil resiko perjalanan, kami re routing yang seharusnya transit di Ngurah Rai terlebih dahulu menjadi langsung ke Bandara Soetta,” paparnya.

Satwa ini diperkirakan berangkat dari Cheng Du pukul 04.10 waktu lokal, dan akan tiba di Bandara Soekarno Hatta pada pukul 08.50 WIB. Selanjutnya akan dikarantina di Lembaga Konservasi PT. TSI, Cisarua, Bogor.

Selain Pelaksana Tugas Dubes Tiongkok, Sun Weide, turut hadir dalam konferensi pers yang digelar di KLHK (22/09/2017), yaitu Staf Khusus Menteri LHK Bidang Komunikasi KLHK, Nova Harivan, Direktur PIKA KLHK, Listya Kusumawardani,  Direktur Kargo Garuda Indonesia, Sigit Muhartono, dan Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLHK, Djati Witjaksono Hadi. (*)

BERITA REKOMENDASI