Intelijen Prancis Dinilai Gagal

Editor: Ivan Aditya

PARIS (KRjogja.com) – Intelijen Prancis dinilai sangat lemah dan harus direformasi. Hal ini terungkap dalam rapat komisi investigasi serangan teroris Prancis. Hasil penyelidikan awal komisi di parlemen Prancis tersebut menunjukkan bahwa ada sejumlah kegagalan yang dilakukan badan intelijen Prancis yang telah menyebabkan negara tersebut dilanda serangan teroris sejak Januari 2015, yang diawali dengan insiden Charlie Hebdo pada awal tahun lalu.

Jumlah korban tewas akibat serangan teroris di Prancis selama 2015 mencapai 147 orang. JUmlah korban terbesar terjadi saat serangan teroris terjadi di gedung konser Bataclan yang menewaskan 130 orang. Komisi menyebutkan telah terjadi "kegagalan global" di kalangan agen intelijen Prancis. Komisi pun merekomendasikan agar layanan intelijen Prancis yang selama ini memiliki enam unit diubah menjadi unit tunggal seperti di Amerika Serikat.

Saat ini Prancis punya enam unit intelijen untuk merespons berbagai serangan. Keenam unit ini memberikan laporkan ke Kemendagri, Kemenhan, dan Kementerian Ekonomi. "Harus diubah menjadi satu unit seperti Badan Intelijen AS dalam merespons serangan teroris," demikian rekomendasi komisi di parlemen Prancis tersebut.

Sementara itu, umat Muslim Prancis dan Katolik, Minggu 31 Juli 2016, bergabung bersama untuk mengenang meninggalnya seorang pastur Prancis yang dibunuh oleh dua teroris setempat. Pembunuhan pastur berusia 86 tersebut oleh anggota ISIS asal Prancis bernama Abdul Malik Nabil Petitjean dan Adel Kermiche sempat menimbulkan kekhawatiran di Prancis pada hubungan antaragama. (*)

BERITA REKOMENDASI