Iran Siap Balas Dendam ke AS, Ekonomi Global Bakal Terganggu

IRAN, KRJOGJA.com – Meredanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok menghadirkan sentimen positif terhadap ekonomi global. Namun, hal itu bisa tidak berumur panjang. Sebab, perekonomian dunia harus bersiap menerima pukulan baru buntut dari sikap agresif AS kepada Iran.

Dampak secara langsung yang dapat terlihat adalah melemahnya sejumlah saham di AS dan naiknya harga minyak. Kegelisahan investor di level global juga akan menjadi ancaman baru bagi perekonomian Indonesia.

Serangan AS yang mengakibatkan tewasnya Mayor Jenderal Qasem Soleimani di kawasan Bandara Internasional Baghdad, Iraq, Jumat (3/1/2020) dini hari langsung direspons pasar dengan naiknya harga minyak dunia. Dilansir dari AFP Sabtu (4/1/2020), harga minyak Brent naik 4,4 persen ke level USD 69,16 per barel. Sementara itu, jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 4,3 persen ke USD 63,84 per barel.

Kenaikan harga minyak dunia tersebut juga diwarnai anjloknya beberapa saham di bursa perdagangan AS. Termasuk, turunnya saham berbagai maskapai seperti United, American, dan Delta sebesar 1,6 persen.

Jika berkelanjutan, naiknya harga minyak dunia tersebut berdampak langsung ke negara-negara yang bergantung pada impor energi. Tidak terkecuali Indonesia.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira Adhinegara menyebutkan, harga minyak mentah yang meroket berpotensi berimbas pada beban subsidi BBM dan tarif listrik yang membengkak di awal 2020. ”Asumsi harga minyak ICP tahun 2020 adalah USD 63 per barel, sementara harga acuan Brent telah mencapai lebih dari USD 68 per barel. Di sisi lain, harga BBM nonsubsidi jenis pertamax, pertalite, maupun dex pun berisiko mengalami penyesuaian,” ulas Bhima kemarin.

Efek domino dari potensi dampak itu adalah inflasi yang lebih tinggi daripada 2019.

Menurut Bhima, jika tekanan pada harga kebutuhan pokok naik, daya beli tertekan. Pertumbuhan ekonomi pun bisa terancam merosot di bawah 4,8 persen. ”Jadi, memang benar bahwa masih ada kekhawatiran eskalasi geopolitik yang memburuk dari Hongkong sampai Timur Tengah,” tandasnya.

Di sisi lain, kondisi ekonomi global yang semakin tidak pasti membuat sebagian besar investor melarikan diri dari aset berisiko seperti saham dan mengalihkan kepada aset-aset aman seperti emas. Hal tersebut tecermin pada penguatan harga emas berjangka yang melonjak lebih dari 1 persen.

AS Tambah Pasukan

Teriakan yang mengecam Amerika Serikat (AS) menggema saat ribuan orang mengiringi peti jenazah Mayor Jenderal Qasem Soleimani yang diarak di Baghdad bagian utara Sabtu (4/1/2020). Serangan terhadap pemimpin Quds Force, sayap Garda Republik, itu diprediksi bisa memicu perang.

Pemerintah Iraq turut memprotes serangan dari AS tersebut. Perdana Menteri Iraq Adil Abdul Mahdi yang ikut dalam pemakaman Soleimani mengutuk AS karena telah membawa konflik baru di tanah Iraq. ”Apa yang dilakukan AS bakal membawa perang ke Iraq,” ujar Mahdi kepada Agence France-Presse. 

Hashed Al Shaabi alias Popular Mobilization Forces (PMF) mengatakan, AS terus bertindak seenaknya di tanah asing. Kelompok militan pro-Iran itu menyebutkan, konvoi mereka di utara Baghdad menjadi korban serangan udara. Yang dituding tidak lain koalisi AS.

Namun, hal tersebut langsung dibantah Myles Caggins, juru bicara koalisi militer AS di Timur Tengah. ”Tidak ada serangan dari Amerika ataupun koalisi,” katanya. Presiden AS Donald Trump juga terus menyangkal tindakannya yang dapat meningkatkan tensi di Timur Tengah. Dia menegaskan bahwa pembunuhan Soleimani merupakan tindakan pencegahan atas ancaman yang diterima Kedubes AS dan aset lain di level regional. ”Kami melakukan hal itu bukan untuk memulai peperangan, melainkan menghentikannya,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Komandan Iran Revolutionary Guard Corps Ali Fadavi menuturkan, Gedung Putih mencoba untuk merayu Iran pasca pembunuhan tersebut. Menurut dia, Washington mengirimkan pesan yang meminta Iran tak keterlaluan dalam melakukan upaya balas dendam. ”AS tak bisa mengatur bagaimana kami akan membalas dendam. Mereka tinggal tunggu waktu,” tegas Fadavi. 

Di saat yang sama, pemerintah AS sudah bersiap menghadapi semua kemungkinan. Pentagon mengirimkan 3.500 personel tambahan. Pasukan tersebut datang dari 82nd Airborne Division, divisi yang sama dengan 750 personel tambahan yang sudah tiba di Timur Tengah Kamis lalu. Selain itu, AS punya 14 ribu personel yang sudah beroperasi di Timur Tengah. ”Mereka akan ditempatkan di Kuwait untuk bersiaga. Mereka bakal dikerahkan jika ada ancaman terhadap personel atau fasilitas AS,” tulis Pentagon seperti dikutip Washington Post.

Pembalasan Iran

Sementara itu, pengamat hubungan internasional Teuku Rezasyah menilai ketegangan antara Iran dan AS tidak akan sampai meletupkan perang dalam skala besar. Apalagi sebagaimana yang ramai di media sosial, ancaman Perang Dunia III.

Kedua negara, menurut dia, sangat sadar akan dampak sebuah perang dunia yang akan menghancurkan peradaban di Timur Tengah dan Amerika Serikat sendiri. ”Saya pikir tidak. Tapi, yang jelas, sentimen anti-AS akan semakin besar di Iran. Apalagi, selama ini mereka menyebut AS syaitanul akbar,” ujarnya.

Dapat dipastikan, dalam masa berkabung, Iran masih akan menahan diri. Mereka juga akan memikirkan secara cermat cara menghadapi kondisi saat ini. Terlebih setelah serangan kedua Sabtu (4/1/2020) terhadap konvoi milisi Iran di Baghdad bagian utara, Iraq, menjelang seremoni pemakaman Komandan Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Qasem Soleimani. 

”Yang jelas, serangan balik ke AS nggak mungkin. Terlalu jauh. Terhadap instalasi AS di Timur Tengah sangat mungkin. Tapi, sekali lagi, Iran akan sangat hati-hati,” tuturnya.

Sebab, dengan teknologi remote sensing yang dimiliki AS saat ini, asal serangan akan sangat mudah terbaca. ”Lalu, ada dampak pembalasan. Itu harus dihitung-hitung,” sambungnya.

Iran sangat mungkin melakukan pembalasan dalam hal pembersihan anasir-anasir pro-AS di Iran. Atau menarget kontraktor AS di Iraq, Syria, dan Afghanistan.

Balas dendam ekstrem lainnya yang mungkin dilakukan adalah menciptakan krisis ekonomi internasional. Iran bisa saja melakukan blokade di Selat Hormuz. Meletakkan pasukan di sana untuk melakukan latihan militer selama tiga hari. Efeknya bakal sama persis dengan kejadian oil shock pada 1973, saat negara-negara Arab menutup keran minyak untuk AS dan Jepang secara mendadak. ”Hal itu pasti akan mengganggu pelayaran internasional dan menaikkan harga minyak dunia. Jadi, tidak dijawab secara militer, tapi diplomatik dengan men-declare latihan militer di sana,” papar dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran tersebut. 

Langkah untuk menjegal AS di PBB juga sangat terbuka. Melalui Majelis Umum PBB, Iran bisa menggalang dukungan dari negara-negara dunia, terutama negara-negara Teluk lain, dengan mengangkat isu ancaman keamanan internasional. ”Bisa jadi ada pemungutan suara sendiri di sana,” katanya.

Dalam kondisi ini, Indonesia harus berhati-hati dalam bersikap meskipun saat ini sudah resmi menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Sebab, ketika Indonesia memprakarsai adanya sebuah gerakan, akan berbenturan dengan AS. Hal itu dapat membuat simpati AS dalam kasus Natuna berkurang. ”Kita harus sangat hati-hati. Jangan sampai Indonesia memihak,” tuturnya.

Langkah yang mungkin bisa diambil, papar dia, adalah menyadarkan kedua pihak untuk menahan diri dan membangun dialog. Tentunya dengan perantara. Sebab, dialog bilateral tidak akan terjadi karena kedua negara tidak punya hubungan diplomatik. ”Mungkin bisa dilakukan lewat OKI,” katanya.

Meski demikian, hal itu juga bukan perkara mudah. Mengingat, masih ada sengketa regional antara Iran-Arab Saudi. AS akan selalu ada karena posisinya jelas di belakang Saudi. (*)

BERITA REKOMENDASI