Jemaah Embarkasi SOC Asal DIY Apresiasi Layanan Haji

MAKKAH, KRJOGJA.com – Pemerintah RI melalui Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi terus berupaya menyempurnakan pelayan bagi jemaah dari berbagai bisa dan aspek. Sisi akomodasi, transportasi dan layanan katering menjadi tiga hal yang cukup ditekankan karena terkait langsung dengan jemaah haji.

Baca Juga: Mbah Moen Sempat Tertahan di Imigrasi

Berbagai pelayanan tersebut juga dinikmati jemaah haji asal DIY yang tergabung di Sektor 11 Makkah. Dengan zonasi yang mengelompok, jemaah merasa makin nyaman karena kendala seperti komunikasi tidak menjadi penghalang.

"Kalau untuk penginapan sudah memenuhi standar karena termasuk hotel berbintang dengan fasilitas bagus. Terlebih satu daerah bisa mengelompok," ucap jemaah kloter 27 Embarkasi Solo (SOC) asal Sleman, Agus Suwarto kepada KR yang menjadi bagian Tim MCH 2019, Rabu (7/8/2019).

Agus menambahkan untuk layanan bus shalawat sangat dirasakan manfaatnya. Jika saat terakhir lebih padat, ia mengakui jika hal itu seiring kedatangan seluruh jemaah mendekati masa puncak Armuzna.

"Sepertinya bus kurang banyak. Tapi mungkin karena jalanan mulai padat sehingga alur perjalanan makin tersendat," sambungnya.

Untuk layanan katering, Agus menyebut sudah sesuai karena ada cita rasa Indonesia.   Hanya Agus masih mendapat rerasan dari jemaah lain yang berharap ada menu berkuah.

"Kebutuhan bicara soal kebutuhan, saya pikir soal bayar dam. Kan kebanyakan jemaah Indonesia mengambil haji Tamattu. Tidak sedikit dari kami yang bingung dan belum tahu teknis membayar dam Tammatu itu. Jemaah harus mencari bank dan antri membayar," sebut Agus.

Idealnya jika sejak awal pemerintah juga sudah mengkordinir untuk pembayaran dan ini. Dengan jumlah jemaah yang sudah diketahui jumlahnya serta ada ketentuan wajib, semestinya hal tersebut sudah dapat diantisipasi sejak awal.

Baca Juga: Hujan Guyur Masjidil Haram, Takbir Menggema

Sementara itu jemaah lain dari Kloter 25 SOC, Mukhibin menyebut pembagian kamar masih menjadi kendala. Hal itu berbanding terbalik dengan fasilitas kamar yang sudah baik.

"Pihak hotel dasarnya jumlah jemaah dan kuota per kamar. Kendalanya kadang ada jemaah yang tidak nyaman di kamar pembagian karena merasa belum kenal dekat," ucapnya.

Karena hal itu lantas ada kecenderungan merapat ke kamar yang merasa nyaman ditempati sebab kenal dengan penghuni lain.

"Kadang bednya ada yang dirapatkan atau dijejer sehingga bisa menampung teman lain. Padahal sebetulnya jatah kamar bukan di kamar tersebut," ungkap Ibin. (Feb)

BERITA REKOMENDASI