Kapanpun Indonesia Siap Berkontribusi dalam Krisis Teluk

JAKARTA,KRJOGJA.com – Kawasan Timur Tengah dan Teluk Arab sedang terjerumus ke dalam salah satu krisis diplomatik terbesar sepanjang sejarah. Krisis itu ditandai setelah Arab Saudi, Bahrain, Mesir, Uni Arab Emirat, Yaman, Libya, Maladewa, Mauritius, dan Mauritania memutus hubungan diplomasi dengan Qatar.

Krisis diplomasi itu kemungkinan besar akan menimbulkan konsekuensi yang sangat besar, bukan hanya bagi Qatar, melainkan juga bagi seluruh kepentingan politik sejumlah negara, khususnya yang berasal dari kawasan Timur Tengah, Teluk Arab, dan Barat. Contohnya seperti Turki, Iran, dan Amerika Serikat yang turut terkena imbas atas krisis tersebut dan bahkan dituding memiliki andil sebagai penyebab permusuhan antara Arab Saudi cs dengan Qatar.

Meski bukan berasal dari regional yang sama, Indonesia turut memiliki kepentingan di negara dengan Ibu Kota Doha tersebut. Kepentingan bilateral kedua negara mencakup bidang ketenagakerjaan, investasi, politik, hingga ekonomi.

Berdasarkan data 2015, Qatar menampung sekitar 43.000 Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di sektor migas, medis dan perawatan, pariwisata dan perhotelan, teknologi informasi, konstruksi, serta sektor domestik, demikian seperti data yang diperoleh dari Kementerian Ketenagakerjaan RI dan International Organization for Migration.

Selain itu, Qatar merupakan negara dengan investasi dan bisnis yang cukup mumpuni di Indonesia. Pada 2011, volume neraca perdagangan kedua negara mencapai US$ 683,6 juta. Dan pada 2015, volume neraca perdagangan keduanya mengalami kenaikan sebesar 260 persen hingga mencapai US$ 1,32 miliar.

Dalam sektor investasi dan bisnis, Qatar sempat mengakuisisi 65 persen saham salah satu perusahaan penyedia layanan telekomunikasi di Tanah Air. Selain itu, kedua negara memiliki relasi di industri energi antara Pertamina dengan Qatar Sector-3 di bidang blok migas.

Menilai relasi bilateral Indonesia-Qatar yang cukup signifikan, serta cukup banyaknya kepentingan keduanya di masing-masing negara, Tanah Air siap berkontribusi positif dalam krisis diplomasi Timur Tengah dan Teluk Arab.

Melalui Menteri Luar Negeri RI, Indonesia mengimbau agar tiap-tiap negara menghormati ketentuan internasional yang berlaku demi menghindari peristiwa yang semakin memicu tensi tegang. Tanah Air juga siap berperan dalam proses mediasi konflik di kawasan tersebut, jika dibutuhkan.

"Kita mengingatkan kepada negara-negara tersebut agar prinsip-prinsip hubungan internasional seperti yang diatur dalam sejumlah ketentuan PBB, seperti menghormati kedaulatan dan urusan dalam negeri masing-masing. Kami juga, jika dibutuhkan, siap untuk berkontribusi (untuk mediasi konflik), namun harus dipahami juga bahwa ketegangan ini terjadi di regional yang berbeda. Kita harus menghormati mekanisme yang ada di sana," ungkap Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir di Jakarta, Jumat (9/6/2017).

Sebelumnya, Menlu RI juga mengimbau agar masing-masing negara yang terlibat dalam krisis diplomatik tersebut mampu menahan diri dan tidak memancing eskalasi tensi yang semakin memicu situasi tegang di kawasan Timur Tengah dan Teluk Arab. Imbauan tersebut disampaikan oleh Retno Marsudi kepada Menlu Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Turki, Iran, dan Uni Emirat Arab.

"Ibu Menlu sudah berbicara dengan mereka–para menlu dari negara-negara yang tengah menghadapi krisis–dan menyampaikan pesan yang sama," kata Arrmanatha.

"Intinya, pesan yang kita sampaikan adalah, pertama mendorong semua pihak untuk menahan diri dan berkontribusi untuk meredakan situasi. Kedua, kita mendorong agar negara-negara yang memiliki permasalahan untuk mengedepankan rekonsiliasi dan dialog," tambah sang jubir mengenai pesan yang disampaikan oleh Menlu Retno Marsudi kepada Menlu Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Turki, Iran, dan Uni Emirat Arab.(*)

BERITA REKOMENDASI