Keberadaan Uni Eropa Tetap Diakui

Editor: Ivan Aditya

STRASBOURG (KRjogja.com) – Di tengah kekhawatiran sejumlah kalangan bahwa Uni Eropa (UE) kemungkinan akan lenyap setelah Brexit, Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker menegaskan bahwa UE tak akan berakhir. Juncker mengakui bahwa UE sedang mengalami krisis, tetapi ini tak akan mencerai-beraikan persatuan di blok terbesar di Eropa tersebut.

"Uni Eropa saat ini tak punya persatuan yang kokoh. Ada sejumlah perpecahan dan fragmentasi memang terjadi. Namun sampai saat ini Uni Eropa masih merupakan blok yang terbaik dan menjadi kekuatan penting di Eropa. Sejauh ini bisa dikatakan, belum ada risiko serius yang bisa mengancam eksistensi Uni Eropa," ujar Junker di Strasbourg.

Kekhawatiran soal masa depan Uni Eropa telah disuarakan banyak kalangan bukan hanya dipicu oleh keluarnya Inggris dari lembaga tersebut, melainkan juga faktor lainnya, seperti membanjirnya pengungsi dari Timur Tengah di Eropa. Sejumlah negara di Eropa mengkritik kebijakan Uni Eropa yang mengharuskan para anggotanya untuk menampung jutaan pengungsi dari Timur-Tengah dan kawasan konflik lainnya.

Hal ini telah membuat sejumlah politisi di negara-negara yang merasa jumlah migran sudah terlalu banyak, mengancam akan keluar dari Uni Eropa, mengikuti Inggris. Inggris setelah keluar dari Uni Eropa tak lagi punya kewajiban menampung pengungsi dengan kuota yang ditentukan Uni Eropa. Inggris kini bebas menentukan berapa jumlah migran yang ingin mereka tampung.

Hal ini menyebabkan sejumlah kalangan di negara-negara UE ingin mengikuti jejak Inggris. Tujuannya, agar tak lagi dipaksa oleh otoritas Uni Eropa untuk menerima migran dengan kuota tertentu. Sejumlah politisi di Denmark, Hungaria, Prancis dan Austria bahkan meminta otoritas negara mereka untuk keluar dari UE supaya tak lagi wajib mematuhi instruksi Uni Eropa soal kuota migran yang harus dipatuhi.

Sejauh ini hanya Jerman di bawah kepemimpinan Angela Merkel, yang menerima migran dengan jumlah melebihi kuota yang membuat negara ini dianggap sebagai teladan di Uni Eropa. Sejak 2015, Jerman telah menerima 1,5 juta pengungsi, mayoritas warga Suriah. Meskipun demikian, munculnya sejumlah serangan teroris di negeri Bavaria tersebut telah menyebabkan sejumlah politisi oposisi, termasuk dari partai baru AFD (Alternatif Jerman), menyerukan agar Jerman keluar dari Uni Eropa atau mereka menyebutnya dengan istilah Dexit. (*)

BERITA REKOMENDASI