Kisah Mahasiswa Indonesia di Wuhan, ‘Terimakasih Telah Tenang dan Tidak Panik’

SUNYI dan sepi, kata yang bisa menggambarkan keadaan Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China saat ini. Tak ada yang tahu kapan kota itu akan ramai lagi, setelah dinyatakan ditutup oleh pemerintah China untuk mencegah virus corona semakin menyebar.

Kepada KRjogja.com, Yuliannova Lestari Chaniago (26), mahasiswa Hubungan Internasional, Central China Normal University menceritakan kisahnya. Menurut Yuli, Wuhan adalah kota yang ramai sehari-hari. Sebab, Wuhan adalah salah satu kota besar di China yang juga menjadi tempat perantauan.

Namun sekarang, Wuhan seperti kehilangan semaraknya. Sebagian besar toko masih tutup. Mall-mall yang biasanya penuh dikunjungi orang, kini tidak buka hingga waktu yang belum ditentukan. Jalan-jalan terlihat sepi, hanya sedikit kendaraan melaju melintasi kota tak penuh sesak. Hujan pun turun tak kunjung berhenti, matahari seperti malu-malu menunjukkan diri.

Sesekali, terlihat beberapa orang berjalan menuju ke suatu tempat atau kembali ke rumah. Meski Wuhan sedang ditutup, bukan berarti masyarakat tak bisa keluar rumah. Mereka hanya melakukan aktivitas luar ruang seperlunya tanpa menanggalkan masker dan peralatan perlindungan lain. “Wuhan itu kotanya ramai. Kadang kalau hari biasa, saya sampai malas keluar karena cukup banyak orang berlalu lalang. Saat ini sepi karena Tahun Baru Imlek, sehingga toko-toko tutup. Ditambah, ada pengumuman Wuhan ditutup itu, sehingga orang-orang yang pada pulang ke daerah masing-masing belum kembali ke sini,” bukanya ketika dihubungi KRjogja.com, Senin (27/1/2020) via telfon.

Yuli adalah satu dari 97 orang Indonesia yang ada di Kota Wuhan. Ia menjelaskan dirinya baik-baik saja, begitupula dengan sejumlah rekan yang ada di kota tersebut. “Saya tinggal di asrama internasional. Di sini, kami ada 68 orang dari Indonesia, tapi karena sedang libur Imlek, jadi separuh penghuni dari Indonesia pulang ke negara asal. Setidaknya, masih ada 30 orang di sini,” tukasnya dengan semangat.

Bagi Yuli, berada di tengah-tengah kota yang menjadi pusat peredaran virus mematikan bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak kekhawatiran dari keluarga, teman dan rekan di Indonesia yang terdengar hingga telinganya. Ia sendiri mengaku cukup panik melihat situasi seperti ini. Bagaimana tidak, kota tempat ia menempuh studi selama tiga tahun, ternyata merupakan sumber virus yang menjadi perbincangan dunia. Namun, Yuli meyakinkan sekaligus bersyukur, teman-teman di Wuhan saling mendukung dan berupaya menguatkan satu sama lain.

“Ada sebuah kalimat yang menjaga semangat kami hingga kini, yaitu ‘selamat malam, selamat istirahat, terimakasih telah bertahan, tetap tenang dan tidak panik hingga hari ini’. Kata-kata itu membuat kami bertahan dan terus jaga diri di Wuhan,” terang Yuli. Kini, yang ia harapkan hanyalah energi positif dari siapapun yang mendengar kabarnya di kota itu.

Petugas kebersihan di dekat Stasiun Jiedaokou di Kota Wuhan masih tetap beroperasi di Tengah wabah corona. 
(Dokumentasi Yuliannova Lestari Chaniago)

Dikatakannya, bentuk dukungan lain adalah saling menanyakan ‘sudah makan atau belum?’. Jika ada yang belum makan, mereka akan bergantian memberi makanan agar tidak ada yang sakit di tengah epidemi yang belum ditemukan obatnya itu. Kesehatan dan kewarasan pikiran menjadi kunci utama menghadapi wabah virus corona yang hingga kini mematikan 80 orang itu.

Tak hanya itu, terkadang, mereka juga memasak bersama sembari menyetok bahan makanan untuk beberapa hari ke depan. “Di sini, harga bahan makanan memang cukup naik, akibat permintaan yang tinggi tapi penyediaan rendah. Akan tetapi, pemerintah China sendiri memastikan bahan makanan akan tetap dipasok,” tambahnya.

Sebagai tindakan preventif, Yuli yang sedang menempuh studi doktoral di Wuhan itu mengaku dirinya sudah membeli sejumlah masker yang cukup tebal. Awalnya, pembelian itu merupakan caranya untuk jaga-jaga setiap hari. Hal ini dikarenakan Wuhan merupakan salah satu kota dengan tingkat polusi yang tinggi.

“Setelah 'lockdown' tanggal 23 Januari lalu, stock masker di apotek memang menipis bahkan tidak ada. Kalau ada, adanya yang tipis. Balik lagi, ini karena permintaan dan penyediaan yang tidak imbang. Kebetulan saya sudah membeli sejak sebelum Imlek untuk stock. Karena saya tahu toko akan tutup,” jelasnya.

Kini, mimpi Yuli tak muluk-muluk, ia hanya berharap situasi ini cepat selesai dan kesehatannya tetap terjaga. Dirinya juga yakin, pemerintah Indonesia melalui KBRI Beijing selalu melakukan yang terbaik untuk memantau para warga negaranya yang berada di Kota Wuhan. “Kami yakin, kami di sini sehat dan saling menjaga. Kami semua dipantau melalui orang KBRI Beijing,” tandasnya. (R-1)

BERITA REKOMENDASI