Klaim Menang di Pilpres Turki, Ini Harapan Erdogan

PRESIDEN petahana Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengklaim kemenangan dalam Pemilu Presiden Turki, meskipun hasil resmi belum diumumkan. Erdogan meraih 53 persen suara, mengalahkan rival kuatnya, Muharrem Ince, yang memperoleh 31 persen dukungan. Demikian ditulis media pemerintah Turki, Anadolu.

Tidak hanya itu, Erdogan menyebut partainya, AK, juga meraih mayoritas suara di parlemen dalam pemilu legislatif yang diselenggarakan bersamaan dengan pilpres pada Minggu 24 Juni 2018.

Dari 96 persen suara yang sudah masuk, partai AK memimpin dengan 42 persen suara. Sementara partai oposisi, CHP, 23 persen suara. Erdogan mengatakan ini adalah ujian demokrasi yang berhasil.

Meski begitu, oposisi menyebut Erdogan terlalu dini menyatakan kemenangan.

Berdasarkan konstitusi terbaru Turki, presiden negara yang terletak di Asia dan Eropa itu, akan memiliki kekuasaan yang lebih besar.

Sejumlah pengkritik menyebut ini bisa berbahaya karena kekuasaan terakumulasi di satu orang saja. Alhasil, tidak ada pengawasan dari lembaga setara lainnya.

Jumlah Pemilih Tinggi, Tidak Terjadi 'Gejolak'

Media pemerintah Turki, Anadolu, menyebut jumlah pemilih yang datang memberikan suara mencapai 87 persen. "Saya harap tidak ada yang akan mencurangi hasil ini," kata Erdogan.

Kepala Bidang Politik Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ankara, Fahmi Aris Innayah, mengungkapkan hasil tersebut 'menandakan kemenangan demokrasi Turki'.

"Karena tingkat partisipasinya cukup tinggi. Dan salah satu yang menggembirakan pula karena tidak ada gejolak apapun dalam penyelenggaraan pemilu ini," jelasnya dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir, melalui sambungan telepon pada Minggu 24 Juni malam.

Kepala Bidang Politik Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ankara, Fahmi Aris Innayah, mengungkapkan hasil tersebut 'menandakan kemenangan demokrasi Turki'.

"Karena tingkat partisipasinya cukup tinggi. Dan salah satu yang menggembirakan pula karena tidak ada gejolak apa pun dalam penyelenggaraan pemilu ini," jelasnya.

Fahmi menyebut tantangan terbesar Erdogan adalah pengendalian tingkat inflasi yang telah mencapai 11% dan penurunan angka pengangguran. Selain itu, penyelesaian kasus pemberontakan, menjadi fokus lain tantangan dalam negeri, di samping isu Suriah dan ISIS, di kawasan.

"Turki juga bertekad untuk mandiri di bidang teknologi. Ingin punya persenjataan yang maju, Ingin menguasai (sistem misil) S-400 dan (pesawat tempur) F-35. Selain itu, ada tekad kuat juga untuk menjadi anggota Uni Eropa." (*)

BERITA REKOMENDASI