Kondisi Rakhine State Masih Mencekam

MYANMAR, KRJOGJA.com – Kondisi terakhir hingga Jumat (8/9/2017) malam di kawasan Rakhine State masih mencekam, militer Myanmar masih melakukan penyisiran di sejumlah desa di kawasan tersebut. Bahkan hingga tadi malam masih terjadi pembakaran pemukiman penduduk di desa Maungdaw, Buthidaung dan Rethatong oleh militer.

Demikian diungkapkan relawan ACT di Rakhine, Faisol Amrullah kepada ACTnews Sabtu (9/9/2017). “Hingga tadi malam masih ada sekitar 100 ribu lebih etnis Rohingya yang terisolasi di dalam kawasan Rakhine state.  200 ribu lebih sudah berhasil menyeberang ke Bangladesh serta puluhan ribu lainnya masih terjebak dalam perjalanan dari Rakhine menuju Bangladesh,” ungkap relawan ACT yang sudah berhasil masuk ke lokasi paling rawan tersebut.

Banyaknya yang terjebak dalam perjalanan, menurut Faisol karena para pengungsi tersebut masih belum sampai di titik aman. Mereka harus menembus hutan dengan berjalan kaki selama tujuh hari menuju perbatasan Bangladesh. “Mereka melakukannya harus sangat hati-hati guna menghindari berpapasan dengan patroli militer atau polisi Myanmar,” tandasnya.

Untuk 100 ribu jiwa yang terisolasi di kawasan Rakhine State, sebagian besar sudah ada di pengungsian di wilayah Rakhine state. “Alhamdulillah, bantuan kami sudah dua kali masuk untuk pengungsi yang terisolasi ini, yaitu Rabu dan Jumat kemarin (6 dan 8 Agustus),” ungkap Faisol.

Bantuan yang disalurkan ACT kepada para pengungsi mencapai 12 ton yang terdiri dari beras, terigu, kentang, cabe, bawang dan minyak sayur. “Insya Allah bantuan tersebut cukup untuk satu bulan kedepan,” imbuh pria yang sudah bergabung dengan ACT sejak dua tahun silam itu.

Dikatakannya serangan militer Myanmar ke wilayah Rakhine State bersifat sporadis dan tak terjadwal. Bisa terjadi pagi, siang atau sore hari. “Yang jelas mereka tak pernah melakukannya malam hari,” ungkapnya.

Berdasarkan pantauan lapangan team ACT, masalah kesehatan para pengungsi yang terisolasi sangat memprihatinkan. Tanpa dokter, tanpa penanganan medis, mereka terancam kematian akibat penyakit.
“Tak ada bangunan permanen yang bisa buat mereka berteduh, mereka harus tinggal di tenda-tenda darurat berupa terpal yang dibentangkan. Bila hujan terjadi, bocor dimana-mana, belum lagi pakaian yang digunakan hanya yang ada di badan,” tandasnya.

Akibatnya, sejumlah penyakit dialami pengungsi yang terisolir tersebut. Penyakit yang menyerang mereka diantaranya demam, diare, kelaparan, dehidrasi, radang dan lain-lain. “Air yang mereka minumpun diambil dari air genangan berwarna cokelat yang tentu sangat tidak baik buat tubuh, tak ada MCK buat buang air. Tapi ya mau gimana lagi,” ungkapnya.

Mengenai dampak hasil pertemuan Kemenlu RI, Retno Marsudi dengan pemerintah Myanmar belum membuahkan hasil dilapangan. “Blokade bantuan kemanusiaan, baik logistik maupun medis masih terjadi. Kami belum merasakan ada perubahan sama sekali,” imbuhnya seraya menambahkan kekerasan dan intimidasi juga masih terjadi hingga saat ini.(*)

 

BERITA REKOMENDASI