Konflik Afrika, 40 Juta Warga Kelaparan

KAIRO, KRJOGJA.com – Lebih 40 juta orang menderita kelaparan di Wilayah Timur Dekat dan Afrika Utara (NENA) akibat perang dan berbagai konflik. Hal itu terungkap dalam laporan 2017 Organisasi Pertanian dan Pangan (FAO) mengenai keamanan pangan dan gizi di wilayah itu.

Laporan FAO tersebut menyatakan 40,2 juta orang menderita gizi buruk dan kelaparan. Sementara itu, 55,2 juta orang lagi menghadapi kondisi rawan pangan parah akibat konflik di Wilayah NENA.

Kebanyakan Negara NENA adalah negara Arab dan Timur Tengah, termasuk Mesir –tempat Markas Regional FAO berada. Negara lain adalah Suriah, Irak, Yaman, Libya, Sudan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, Oman, Yordania, Lebanon, Mauritania, Tunisia, Aljazair, Maroko dan Iran.

"Tahun ini, laporan FAO memperlihatkan konflik adalah penyebab utama memburuknya kondisi keamanan pangan dan gizi di Wilayah NENA. Sebanyak 40 juta orang menderita kelaparan di wilayah itu dan 75 persen di antara mereka hidup di lima negara yang dicabik perang," kata Abdessalam Ould Ahmed, Kepala Regional FAO untuk NENA dan Asisten Direktur Jenderal organisasi tersebut.

Wilayah itu telah menjadi yang paling tegang di seluruh dunia sepanjang sejarah, kata Xinhua –yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu (23/12/2017).

Apa yang disebut Arab Spring (Revolusi Arab atau Musim Semi Arab) adalah gelombang revolusi unjuk rasa dan protes yang terjadi di dunia Arab. Aksi perlawanan tersebut meletus sekira tujuh tahun lalu — tepatnya dimulai pada 18 Desember 2010 — dan menggulingkan para pemimpin paling kuat di dunia Arab.

Kerusuhan berawal di Tunisia, Mesir serta di Libya. Konflik ini lalu merembet ke Suriah, Irak, dan Yaman, sementara Lebanon dilanda ketidakstabilan politik dan proses perdamaian Palestina Israel menghadapi kebuntuan.

Laporan 2017 FAO menyatakan bahwa 27,2 persen dari semua orang di negara NENA yang terdampak perang secara kronis menderita kelaparan, atau kurang gizi, selama masa 2014-2016. Laporan itu menyoroti Suriah, Irak, Yaman dan Libya sebagai "tempat panas" konflik regional. (*)

BERITA REKOMENDASI