Mantan Model Ini Kandidat PM Jepang

Editor: Ivan Aditya

TOKYO (KRjogja.com) – Partai oposisi di Jepang membuat sejarah dengan memilih seorang perempuan sebagai pemimpinnya. Partai Demokrat yang saat ini menjadi oposisi di negeri Sakura, untuk pertama kalinya menunjuk seorang wanita sebagai pemimpinnya. Wanita tersebut bernama Renho Murata yang dilahirkan di Tokyo 48 tahun lalu. Sebelum terjun ke politik, dia pernah menjadi model pakaian renang dan presenter televisi.

Dengan terpilihnya Renho menjadi pemimpin partai oposisi, maka dia berpeluang menjadi perdana menteri perempuan pertama di Jepang jika partai yang dipimpinnya memenangi pemilu tahun depan. Pemilihan Renho ini sempat diwarnai kontroversi karena ia memegang kewarganegaraan ganda. Pasalnya, Renho lahir dari ibu berkewarganegraan Jepang dan ayah Taiwan. Berdasarkan peraturan Jepang, ia tidak boleh punya kewarganegaraan ganda.

Renho berhasil mengatasi kritikan soal dwikewarganegaraaan tersebut. Renho sendiri sebenarnya dari awal ingin menjadi warga negara Jepang. Namun saat dia lahir pada 28 November 1967, aturan di Jepang hanya menganut satu kewargangeraan dari garis ayah. Karena ayah Renho seorang pria Taiwan, mantan foto model baju renang itu pun sejak lahir otomatis menjadi warga negara Taiwan.

Akan tetapi, saat aturan kependudukan di Jepang berubah pada 1985 yang membolehkan anak dari pernikahan warga Jepang dan warga asing, untuk memilih menjadi warga negeri Sakura. Renho yang saat itu berusia 17 tahun memutuskan untuk memilih menjadi warga Jepang.

Namun karena Taiwan menganut dwikewarganegaraan, status warga negara Taiwan Renho masih tetap berlaku. Akan tetapi, kritikan yang diterimanya usai terpilih sebagai pemimpin oposisi di Jepang, membuat Renho memutuskan untuk mencabut kewarganegaraan Taiwan. Renho saat ini sudah mengirimkan permohonan kepada pemerintah Taiwan untuk mencabut kewarganegaraan Taiwan. Dengan demikian, Renho tak menyalahi aturan Jepang karena saat ini pencabutan kewarganegraan Taiwan sudah dalam proses.

Setelah terpilih menjadi pemimpin Partai Demokrat yang juga membuatnya berpeluang untuk menjadi perdana menteri perempuan pertama di Jepang. Dalam pidato di hadapan para anggota partai, seperti dikutip BBC, mantan model pakaian renang dan pembawa acara televisi yang punya 400.000 pengikut di Twitter tersebut, berjanji untuk menyulap partai yang sedang mengalami kesulitan itu menjadi partai revolusioner. (*)

BERITA REKOMENDASI