Melihat dari Dekat Momen Kejayaan Pasukan Muslim di Khaibar

Editor: Ivan Aditya

KHAIBAR, KRJOGJA.com – Terletak sekitar 180 kilometer dari Madinah, Khaibar memiliki sejarah tersendiri dalam perjalanan Islam semasa Rasulullah SAW. Sebab di wilayah tersebut, terdapat benteng pertahanan kaum Yahudi dari Bani Nadhir pimoinan Harits bin Abu Zainab yang terang-terangan memusuhi Islam.

Kemenangan umat Islam yang dipimpin langsung Nabi Muhammad SAW memang luar biasa. Bukan hanya dari sisi perbandingan jumlah pasukan antara 1.600 tentara Islam melawan 10.000 pasukan Yahudi. Tapi dengan sistem pertahanan berlapis yang letaknya di atas perbukitan batu, pasukan Islam berhasil mengoyak pertahanan langsung ke jantung pasukan musuh dan menewaskan pimpinannya.

Wilayah Khaibar sendiri merupakan sebuah kawasan subur yang banyak ditumbuhi Pohon Kurma dan rerumputan. Bahkan kesuburan wilayah tersebut masih terlihat sampai sekarang meski daerah sekitarnya tandus dan kering. Ketika itu, butuh waktu tiga hari bagi Rasulullah SAW dan pasukannya dari Madinah menuju Khaibar.

Atas kemenangan ini, umat Islam dan Nabi Muhammad SAW berhasil memperoleh  harta, senjata dan dukungan kabilah setempat. Bahkan, kemenangan terhadap Khaibar ini sulit diperoleh Pasukan Romawi terhadap benteng pertahanan Yahudi di Jazirah Arab tersebut.

Ketika Kedaulatan Rakyat berkesempatan menziarahi tempat tersebut bersama Tim MCH Madinah 2019, kebun kurma di lokasi benteng Khaibar masih cukup lebat. Di sekeliling benteng, masih ada sisa bangunan pemukiman kaum Yahudi yang terbuat dari tatanan batu dan tanah liat. Strukturnya cukup rapi, meski kini sudah terbengkalai yang kemungkinan sedang dalam masa rekonstruksi dalam balutan Khaibar Cultural Village.

Kondisi Benteng Khaibar sendiri masih terlihat cukup megah dan terbilang utuh setelah ribuan tahun, khususnya untuk benteng utama. Berdasar literatur, Benteng Khaibar memiliki sistem pertahanan berlapis-lapis yang sangat baik. Untuk perempuan, anak-anak dan harta benda ditempatkan di benteng Watih dan Sulaim. Persediaan makanan dikumpulkan di benteng Na’im. Sedang pasukan perang dikonsentrasikan di benteng Natat.

Di Khaibar inilah nama Ali menjulang setelah berhasil menguasai pintu benteng dan dijadikan perisai. Sejarah tersebut yang hingga kini terus dikisahkan selama berabad-abad tentang kemenangan muslim di Khaibar. Pada pertempuran ini pula pimpinan kaum Yahudi Harith bin Abu Zainab dan Sallam tewas.

Pertarungan dalam jumlah dan kondisi yang tidak seimbang itupun berlangsung sengit. Setelah sejumlah benteng dikuasai, giliran Benteng Qamush jatuh ke tangan umat Islam. Termasuk benteng Zubair setelah dikepung cukup lama. Awalnya kaum Yahudi bertahan di benteng tersebut. Tapi pasukan Islam berinisiatif memotong saluran air menuju benteng yang memaksa pasukan Yahudi keluar dari benteng dan bertempur langsung.

Menurut penuturan sejumlah sumber, sejumlah benteng memang hancur saat berlangsungnya perang. Berdasar amatan langsung di lapangan, di dalam benteng terdapat sejumlah ruangan yang memiliki fungsi masing-masing. Untuk benteng yang paling tinggi, lebih khusus digunakan pasukan panah melalui sejumlah celah yang sengaja dibuat.

Untuk memasuki benteng juga harus melewati anak tangga yang cukup tinggi serta melalui jalan setapak seperti lorong. Ukuran lorong tersebut juga cukup pendek sehingga ketika masuk harus dengan merunduk. Berdasar strategi perang, hal itu untuk menghindari pasukan dari hujan anak panah yang dilontarkan musuh sehingga dapat mencapai tempat aman untuk melakukan serangan balasan. (Feb)

BERITA REKOMENDASI