Militer Indonesia-India Kerjasama Cegah Terjadinya Perang

JAKARTA, KRJOGJA.com – Kerja sama Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan Angkatan Bersenjata India terus ditingkatkan. Kedua institusi pun berencana melaksanakan Latihan Bersama di bidang Peacekeeping Operation dan Anti Terorisme.

“Rencananya akan latihan di Indonesia Peace and Security Center (IPSC) dan juga Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT),” kata Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat mengunjungi Panglima Angkatan Bersenjata India Laksamana Sunil Lanba di Markas South Black Lawns, India, beberapa waktu lalu.

Sejauh ini memang kerja sama militer antara Indonesia dan India sudah terjalin dengan baik di berbagai bidang. Sebagai contoh, latihan bilateral antara TNI AD dan Angkatan Darat India dengan nama Garuda Sakti.

Sedangkan latihan antara TNI AL dan Angkatan Laut India dengan sandi Latihan Samudera Sakti dan Patroli Terkoordinasi dengan nama Indindo Coordinated Patrol. Selain itu dilaksanakan juga kegiatan multilateral seperti Komodo 2016 di Padang dan 2018 di NTB Lombok.

Tak menutup kemungkinan TNI dan Angkatan Bersenjata India bisa menjalim kerja sama alih teknologi kemiliteran bagi matra darat, laut dan udara. Sebab, industri pertahanan India sudah sangat maju.

“Kita dapat belajar dengan memanfaatkan kesempatan kerja sama militer di bidang alih teknologi seperti kerjasl sama perawatan pesawat tempur buatan Rusia seperti SU-27 dan SU-30,” beber Hadi.

Lebih lanjut, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Sisriadi berkata, antara Indonesia dan India juga Pakistan kerap bertukar perwira menengah. Tujuannya, untuk saling belajar dan sebagai upaya diplomasi pencegahan konflik.

“Saling balas membalas. Kalau mereka kirim ke sini kolonel maka kita kirim kolonel. Ini tujuannya tentu untuk mencegah terjadinya konflik,” ungkapnya.

Sebab menurut Sisriadi, tak jarang ada pihak-pihak yang mendorong terjadinya perang. Terlebih Indonesia dinilai memiliki militer yang kuat.

Namun kata Sisriadi, justru kalau kekuatannya kuat, dampak kerusakannya akan lebih besar ditanggung Indonesia. “Kecuali sangat sangat terpaksa dan demi kedaulatan negara. Jadi sebisa mungkin kita cegah dengan cara hubungan diplomatik militer,” pungkasnya.(*)

BERITA REKOMENDASI