Pakistan Berharap Hubungan dengan Amerika Membaik

Editor: Ivan Aditya

ISLAMABAD (KRjogja.com) – Presiden terpilih AS Donald Trump secara mengejutkan dipuji pemerintah Pakistan yang selama ini punya hubungan tak harmonis dengan Washington. Pujian pemerintah Pakistan terhadap Trump ini terungkap setelah penguasa Pakistan mempublikasikan hasil rekaman pembicaraan telefon antara PM Nawaz Sharif dan sang miliuner.

Dalam pembicaraan tersebut, Trump dan Sharif berbincang dengan sangat akrab layaknya teman karib, meski belum pernah bertemu. Trump juga memuji rakyat dan pemimpin Pakistan. Sharif menelefon Trump pada Kamis 1 Desember 2016 untuk mengucapkan selamat kepada Trump dan berharap hubungan kedua negara akan semakin meningkat di era Trump. Hasil rekaman Sharif dan Trump langsung dipublikasikan otoritas Kemeninfo Pakistan di Islamabad.

Tanpa disangka, Trump begitu antusias memuji Pakistan sebagai negara fantastis dengan orang-orang hebat. Bahkan, Trump juga menyebut Sharif sebagai pemimpin yang hebat. "Pakistan itu adalah negara yang fantastis, tempat yang spektakuler untuk orang-orang hebat. Anda adalah pemimpin yang dahsyat," ujar Trump saat menerima telefon dari Sharif.

Komentar Trump dengan nada bicara yang riang dan akrab membuat sejumlah kalangan di Pakistan cukup terkejut. Pasalnya, selama ini hubungan AS dan Pakistan diwarnai sejumlah masalah, termasuk terorismme. AS selama ini menilai Pakistan tak becus menangani masalah terorisme, termasuk Taliban di Afghanistan yang banyak anggotanya berembunyi di Pakistan. Begitu juga dengan kasus Usamah bin Laden yang ternyata selama menjadi buronan nomor satu dunia, bersembunyi di Pakistan, tetapi militer setemmpat yang selama ini banyak mendapatkan dana dari AS, gagal mengendus keberadaan sang teroris.

Kendati akhirnya Usamah dan sejumlah rekannya tewas dalam serangan pasukan khusus AS yang telah melakukan pengintaian terhadap sang teroris pada Mei 2012 lalu, AS menilai seharusnya Usamah bisa ditangkap jauh sebelum itu. Pemerintah Pakistan pun dinilai pemerintah Obama hanya ingin mendapatkan dana, tetapi kerja tak becus. (*)

BERITA REKOMENDASI