Pameran Ekspresi Seni Orang Yogya di Brisbane

INSPIRASI seni bisa datang darimana saja dan kapan saja. Ketika memahami filosofi motif batik asal Cirebon, Mega Mendung , refleksi diri, Yuliana Kusumastuti langsung terinspirasi menuangkan dalam kanvas.  Dengan background merah menyala dengan variasi benang wool merah, putih dan biru melintang membuat garis, sementara guntingan batik Mega Mendung dijahit dan dilem dibuat menggantung di sebatang bambu.

"Buat saya, membuat karya seni merupakan satu media untuk mengungkapkan my story, tapi juga koleksi dari perjalanan hidup disini menyampaikan pesan their story atau our story. Karena meskipun tinggal disini lebih dari dua dekade, terkadang saya masih merasa seperti outsider. Pulang ke Indonesia tiap tahun mengunjungi keluarga di Indonesia membuat saya lebih dekat dengan keluarga dibanding ketika saya tinggal di Indonesia yang hanya 3 jam perjalanan dari Yogyakarta ke rumah keluarga di Semarang,” kata Yuliana. 

Ibu sepasang anak remaja ini mengawali kegiatan publiknya sebagai wartawan Bernas Yogyakarta, tahun 90-an. Mukim di Brisbane Australia lebih dari dua dekade  dengan tetap menulis tengang seni dan budaya, membuat pecinta seni ini diam-diam rajin melukis di waktu senggangnya. Kini, hingga 31 Januari 2020 mendatang ia melakukan pameran tunggal di Albany Creek Library Brisbane. 
Sebanyak 30 lukisan dengan cat akrilik di atas kanvas dan linen, dengan ukuran rata rata 40 cm x 40 cm, dan 6 gambar berukuran 20cm x 30cm, menggunakan pensil, pen, pastel and pena berwarna. “Melukis bagi saya seperti meditasi. Saya memasuki dunia yang hanya saya ada di dalamnya. Sesuatu yang tidak bisa saya ungkapkan dalam tulisan. Sebuah ekspresi spontan yang harus dituangkan di kanvas.” kata Yuliana, yang menyelesaikan pendidikan S2 jurusan Creative Arts di Charles Darwin University, Darwin.

Mengambil tema mengekspresikan diri menjadi bagian dari komunitas disebut Nana – demikian biasa disapa – tidak lepas dari kondisi dimana tinggal sekarang. Contoh dari karya yang mengekspresikan their story is our story, adalah lukisan dengan cat akrilik ‘Fire’, ‘The aftermath’, and ‘Black’.  Karya- karya yang disebutnya sangat relevan dengan keadaan Australia saat ini. 
Kebakaran hutan dimana mana, termasuk di sekitar Brisbane dimana dia tinggal, yang menelan korban jiwa, binatang wildlife, belum lagi harta seperti rumah rumah dan segala isinya. Kepedihan menyaksikan dari televisi dan  mendengarkan cerita orang orang dekat, spontan membuatnya  merespons dengan karya seni.  “Itulah yang saya maksud menjadi bagian dari komunitas, mengungkapkan ekspresi keprihatinan dengan kejadian yang dekat,” tambah Yuliana.

Hidup di dua negara dengan label ‘Barat’ dan ‘Timur’ membuat Yuliana belajar mengerti dirinya sendiri sebelum mengerti orang lain. “Saya banyak belajar mengapresiasi perbedaan, dari perbedaan ras, intelektualitas, disabilitas hingga perbedaan agama,” katanya.

Karya karya lukis dan mixed media yang ia pamerkan kali ini kental dengan sentuhan budaya dan identitasnya sebagai orang Indonesia yang tinggal di Australia. Menggunakan teknik layering, warna- warna yang tajam, bentuk geometris dan garis, adalah ekpresinya tentang perjalanan hidup dengan semua memori indah, kegagalan, pencapaian dan perjuangan hidup, sebagai perempuan dan ibu. Semua elemen yang membentuk diri kita sebenarnya. 

Seri drawing di atas kertas menggunakan pen, pastel dan pensil merupakan rangkaian perjalanan yang ia sering lakukan di waktu luang, mengagumi alam dan flora fauna di sekitar. Garis garis detil dalam drawing menceritakan tempat tempat yang menjadi tempat favouritnya, seperti Hornibrook Bridge sebuah jembatan yang sering dilalui, melihat air pasang surut dari jembatan. Atau ketika  naik kereta api sebagai salah satu transport dalam kota yang dengan berbagai macam cerita dari orang orang di dalam kereta. 

"Perilaku orang di dalam kendaraan publik dimana saja membuat kita menjadi seperti sedang observasi perilaku satu orang dengan orang lain yang kadang menjengkelkan, menggelikan atau mengharukan,” tambahnya.

Yuliana juga terlibat dalam organisasi seni sebagai koordinator untuk ‘Ruwatan Bumi’, yang melibatkan ratusan seniman di seluruh Jawa. Sebagai penulis, Nana masih  menulis seni untuk majalah di Australia, juga menulis untuk kuratorial dan untuk seniman yang berpameran. (Fsy)
 

BERITA REKOMENDASI