Paus Fransiskus Desak Pembantaian Umat Kristen di Kongo Diusut

Editor: KRjogja/Gus

NORTH KIVU (KRjogja.com) – Lebih dari 1.150 orang di wilayah Keuskupan Beni, Butembo dan Lubero di North Kivu, Republik Demokrasi Kongo (DRC) dibunuh dan diculik selama dua tahun terakhir. Sayangnya, pemerintah terkait dan dunia seolah abai.

Paus Fransiskus I lantas angkat bicara. Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Vatikan itu menyebut sikap berdiam diri komunitas internasional sebagai tindakan yang memalukan (shameful silence).

Kecaman itu disampaikan Sri Paus pada peringatan Hari Raya Bunda Maria Diangkat ke Surga, yang jatuh tiap 15 Agustus. Dia pun meminta kasus ini diusut hingga tuntas demi terciptanya perdamaian dan harmoni kembali di tanah Kongo.

“Saya turut berduka untuk orang-orang di North Kivu, Kongo. Mereka baru-baru ini terancam pembantaian, tetapi tidak mendapatkan perhatian sebesar yang kita berikan. Sayangnya, mereka adalah bagian dari sekian banyak orang tak bersalah yang tidak memiliki beban opini dunia,” sindirnya, seperti dikutip dari International Business Times, Sabtu (20/8/2016).

Diketahui, Paus Fransiskus bersama PBB mendesak komunitas internasional untuk beraksi menyelesaikan kasus ini setelah 36 orang Kristen terbunuh sepekan lalu. Laporan terakhir bahkan memperkirakan jumlah korban tewas telah mencapai 50 orang.

Catholic Herald meyakini, para korban diikat sebelum dibunuh. Sementara Premier Christian Radio mengkhawatirkan, meningkatnya angka kematian umat Kristen di wilayah keuskupan tersebut memang telah lama didalangi oleh Islamist Allied Democratic Forces-National Association for the Liberation of Uganda (ADF-NALU).

PBB mencatat, kelompok teroris tersebut telah membunuh sedikitnya 645 orang sejak 2014. World Watch Monitor, lembaga pengawasan dunia di luar PBB menjelaskan, sebelum dibunuh beberapa korbannya juga diperkosa dan diculik. Serangan semacam itu terbilang tidak biasa terjadi di kawasan tersebut. (*)

 

BERITA REKOMENDASI