Pemerintah Jaring Turis di Kota Changsa dan Wuhan

JAKARTA, KRJOGJA.com  – Pemerintah terus melakukan penetrasi ke pasar wisatawan Tiongkok. Salah satunya dengan menggelar Sales Mission Hot Deals. Kegiatan ini akan dilaksanakan di dua kota sekaligus, Changsa dan Wuhan.

Menurut Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Regional I (Great China) Kementerian Pariwisata Vinsensius Jemadu, program ini bekerjasama dengan Tripean dari Tiongkok. "Paket Hot Deals adalah paket wisata yang dikemas dengan harga terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas layanan dan kualitas atraksi wisatanya. Kita menargetkan dapat menjual sekitar 9.000 paket pada program kali ini," ujar Vinsensius Jemadu.

Dia menambahkan, program ini merupakan langkah strategis. Terlebih lagi ada perubahan karakteristik berisata wisman Tiongkok. Dimana sebelumnya bersifat mass tourism, global, conventional, passive tourist, leisure, serta group traveller, kini beralih ke special interest, local, digital, active/participation, experience, dan independent traveller. Selain itu Tiongkok merupakan pasar potensial pariwisata Indonesia. Terbukti, tingkat kunjungan wisman China ke Indonesia selama tiga tahun terakhir terus meningkat. Pada tahun 2015, Tiongkok menyumbang wisatawan sebanyak 1.141.350 orang.

Angka tersebut naik menjadi 1.452.971 orang di tahun 2016. Begitu juga dengan tahun 2018. Tiongkok mendominasi wisatawan dengan menyumbang 1976.728 orang. Bukan itu saja, tingkat pertumbuhan ekonomi masyarakat Tiongkok juga cukup tinggi, mencapai 7 % – 9 %.

"Namun hingga saat ini jumlah masyarakat Tiongkok yang melakukan perjalanan wisata ke Indonesia masih relatif sedikit. Ini yang harus terus kita tingkatkan dengan hard selling seperti ini," ucap VJ.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan, jika pasar wisatawan Tiongkok sangat potensial untuk dikembangkan. Pasalnya outbound wisatawan Tiongkok selalu terkoreksi positif setiap tahunnya. Tercatat, jumlah outbound mereka mencapai 130 juta orang pada 2017.

Selain itu jumlah spending mereka juga tidak sedikit. Mereka menghabiskan bujet besar hingga RMB115,29 Miliar atau Rp242,109 Triliun. Data ini mengacu pada International Luxury Travel Market Asia (ILTMA). (*)

BERITA REKOMENDASI