Pendek dan Obesitas, Masalah Anak Indonesia

Editor: Ivan Aditya

NUTRISI awal kehidupan memang penting. Sebab akan menjadi fondasi kesehatan di kemudian hari. Jika mendapat nutrisi lengkap sejak dini, anak akan sehat dan mampu beraktivitas dengan baik.

Namun hal ini belum banyak mendapat perhatian dari para orangtua. Hal ini bisa dilihat dari kondisi anak di Indonesia yang dinilai masih memerlukan cakupan nutrisi yang cukup. Akibatnya, angka kependekan tubuh manusia masih tinggi. Begitu juga angka obesitas serta alergi pada anak.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013 yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, angka kependekan tubuh manusia di Indonesia mencapai 37 persen, angka tersebut bahkan lebih tinggi ketimbang di Afrika. Menurut Direktur Penelitian dan Pengembangan Danone Nutricia Early Life Nutrition Indonesia, Oi Po Leong, salah satu penyebab tingginya angka tersebut kurangnya asupan nutrisi, di antaranya kalsium.

"Dari berbagai survei yang dilakukan pada para ibu, mereka beranggapan tubuh anak mereka yang relatif pendek karena memang turunannya demikian. Ibunya pendek, anaknya juga pendek. Padahal tidak demikian. Jika asupan nutrisinya mencukupi, justru tumbuh kembang anak akan maksimal," kata Oi Po Leong kepada wartawan dalam kunjungan media ke Research Center Biopolis, Singapura, pekan lalu.

Selain pertumbuhan anak tidak maksimal, permasalahan lainnya adalah tingginya angka obesitas serta sering ditemukannya alergi pada anak. Menurut Oi Po, hal itu diakibatkan nutrisi yang diserap anak tidak sesuai dengan yang dibutuhkan.

"Terkadang banyak ibu senang anaknya gemuk, tapi tidak semua gemuk itu lucu dan sehat. Beberapa di antaranya anak obesitas. Sebab masyarakat lebih mudah mendapatkan gula di sekitar. Ini tidak hanya terjadi di masyarakat menengah ke bawah tapi juga menengah ke atas," tambahnya.

Diungkapkan Oi Po, melihat kondisi ini membuat pihaknya terus melakukan pengembangan untuk menghasilkan asupan yang baik dalam setiap produknya. Dalam upaya pengembangan, pihaknya terus melakukan konsultasi kepada dokter, bidan serta para ibu.

"Kami tanyakan pada para ibu, apa yang dibutuhkan, apa yang menjadi kendala, bisa karena alergi atau tidak cocok atau anaknya menolak makanan. Dari hasil itu, kami gabungkan lewat research and development," kata dia.

Meski demikian, R&D Communication Manager Nutricia Research Center Biopolis Singapura, Pui Kuun Ng tetap menganjurkan air susu ibu sebagai asupan utama bagi anak. Namun, untuk memaksimalkan tumbuh kembang anak dianjurkan pula nutrisi pendamping, baik bagi ibu maupun buah hati.

"Untuk memberikan ASI yang baik, ibu harus memiliki kecukupan nutrisi. Banyak ibu yang datang dengan kadar kalsium rendah, itu yang juga menyebabkan angka kependekan," jelasnya. (Bersambung)

BERITA REKOMENDASI