Pikirkan Dampak Negatif Pengalaman Negara Lain

Editor: Ivan Aditya

DELFT, KRJOGJA.com – Rencana memindahkan ibukota Indonesia, mendapat perhatian dunia.  Dalam sebuah focus group discussion (FGD) yang diselenggarakan KBRI di Den Haag, para narasumber mengingatkan agar semua dilakukan dan dipikirkan dengan matang.

Indonesia perlu belajar banyak dari negara-negara yang memindahkan ibukota termasuk pengalaman Belanda. Peserta yang antusias juga meminta pemikiran pertimbangan fasilitas yang ramah lingkungan dan ramah bagi kaum difabel, serta pandangan masyarakat Dayak lebih jauh mengenai rencana pemindahan Ibu Kota Negara. 

Hal tersebut terungkap dalam focus group discussion (FGD) yang diselenggarakan KBRI Den Haag didukung  Diaspora Indonesia Task Force Livable Cities di Delft. FGD dibuka Duta Besar RI untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja.

Hadir  pembicara-pembicara terkemuka baik yang hadir langsung di Belanda maupun yang memberikan paparan dari Indonesia dan Amerika Serikat melalui Skype. FGD dihadiri  lebih dari 60 peserta yang secara antusias mengikuti sejumlah  paparan yang mengupas berbagai perspektif mengenai rencana pemindahan ibu kota.

Dalam pembukaan, Dubes Wesaka Puja berharap adanya berbagai masukan terkait rencana pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia, terutama mengingat banyaknya pengalaman dan juga expertise di Belanda termasuk diaspora, di bidang isu tata kota, smart and n sustainable city. Dubes dalam siaran pers yang diterima Redaksi KRJOGJA, Rabu (04/12/2019) menyampaikan berbagai potensi kerja sama, termasuk investasi pengembangan tata kota di wilayah Ibu Kota Negara baru bagi pengusaha Belanda di berbagai bidang pembangunan infrastruktur.

Ahli Indonesia dari Universitas Leiden Prof David EF Henley mengupas mengenai sejarah ibu kota dari masa Hindia Belanda hingga kondisi Jakarta di tahun 2019 ini. Selain itu dosen Studi Kontemporer Indonesia ini juga memberikan gambaran agar pemindahan ibu kota juga harus disertai dengan pertimbangan matang. ”Untuk itu, perlu juga  pemikiran mengenai dampak negatif yang mungkin timbul, dengan belajar dari pengalaman sejumlah negara yang memindahkan ibu kota,” tambahnya.

Selain aspek tata kota dan lingkungan, perspektif budaya dan keragaman juga menjadi sorotan pembahasan FGD. Emilius Sudirjo, dari Forum Intelektual Dayak Nasional, menekankan pentingnya perhatian bagi kemajuan masyarakat setempat dan juga untuk mengakomodir budaya-budaya lokal. “Dengan demikian, Ibu Kota Negara baru akan menjadi rumah bersama baik bagi pendatang maupun warga setempat,” kata Emilius Sudirjo.

Sedang arsitek salah satu Sayembara Desain Ibu Kota Baru Daliana Suryawinata menyampaikan berbagai aspek yang akan menjadi pertimbangan pada penjurian Sayembara Desain Ibu Kota Baru, termasuk pentingnya membangun kota yang inklusif. Sementara itu, Wiwi Tjiook dari IDN Livable Cities dan Marcia van de Vlugt, ahli Spatial Planning dari Kementerian Dalam Negeri Belanda, menyoroti aspek-aspek penting yang dapat dipelajari dari pengalaman Belanda.

Ketua Satgas Perencanaan Pembangunan Infrastruktur Ibu Kota Negara Kementerian PUPR, Ir Imam Santoso Ernawi MCM MSc dalam pengantar menyebutkan pemerintah tidak hanya menyoroti tentang aspek perencanaan kebutuhan lahan. Menurut  Imam juga menjelaskan tentang visi pembangunan Ibu Kota Negara yang mengedepankan identitas nasional, dan direncanakan akan dibangun sebagai kota yang  smart, green, beautiful dan sustainable. (Fsy)

BERITA REKOMENDASI