Politisi Amerika Desak Hasil Pilpres Dihitung Ulang

Editor: Ivan Aditya

AMERIKA (KRjogja.com) – Tim sukses Hillary Clinton sangat senang mendengar bekas capres Partai Hijau Jill Stein telah berhasil menggalang dana sebesar 6 juta dolar AS. Uang ini akan digunakan untuk membiayai penghitungan ulang hasil pilpres AS di tiga negara bagian, Michigan, Pennsylvania, dan Wisconsin.

Penasihat tim sukses Clinton, Marc Elias, mengatakan, kendati tak ada bukti sabotase dalam proses penghitungan hasil pilpres 8-9 November 2016 lalu di ketiga negara baian tersebut, mereka mendukung langkah Stein. "Kami sangat memahami bagaimana terlukanya hari para pendukung Clinton yang telah bekerja keras untuk memilih Hillary. Oleh karena itu, kami mendukung langkah Stein untuk memastikan semua suara dihitung," ujar Elias.

Stein sendiri mendesak penghitungan ulang dan telah menyiapkan dana sebesar 6 juta dolar AS yang berhasil dikumpulkannya secara daring dalam dua hari, bukan terkait dengan Clinton. Stein adalah rival Clinton dalam pilpres lalu.

Tujuan mantan capres Partai Hijau tersebut mendesak hasil pilpres di tiga negara bagian dihitung ulang karena ingin memastikan bahwa proses penghitungan suara di tiga negara bagian tersebut telah benar-benar akurat. Stein mengatakan, dia tak punya kaitan dengan tim sukses dan tim kampanye Hillary Clinton. "Saya tak pernah berhubungan dengan siapapun di tim Clinton," ujarnya.

"Saya menginginkan penghitungan ulang karena ada sejumlah pertanyaan soal akurasi penghitungan. Saya tak peduli siapa yang menang dalam pilpres AS, saya akan tetap mendesak hasil pilpes dihitung ulang," ujarnya lagi.

Selain itu, Stein juga menambahkan bahwa dirinya juga ingin memastikan semua suara pendukung partai hijau dihitung. Pada pilpres 8 November 2016 lalu, Partai Hijau berada di urutan terakhir dengan perolehan suara sekira 1,5 juta. Partai Clinton berada di urutan pertama dengan 64 juta suara, tetapi kalah dalam pemungutan electoral votes. Sementara Trump dengan raihan suara hampir 63 juta, menang telak dalam pemungutan suara di tingkat elektoral. (*)

BERITA REKOMENDASI