Potensi Partai, Unsur Penentu Kemenangan Pilkada

Editor: Ivan Aditya

SURVEI pendapat umum seringkali dipakai sebagai tools of analysis tim sukses pasangan calon, dalam kontes antarpeserta pilkada. Asumsi ini menisbikan peran partai pendukung, sehingga pasangan calon cenderung royal mengeluarkan dana untuk berkampanye kemana saja asal dijanjikan bisa bertemu dengan massa dalam jumlah yang diharapkan.

Hasil survei internal ataupun lembaga survei pesanan pihak-pihak berkepentingan, seringkali menjadi perdebatan apakah calon yang didukungnya bisa menang atau tidak. Padahal survei hanya mendeteksi apa yang dikerjakan paslon bersama tim suksesnya dan tentu seberapa keras partai pengusung telah bekerja dengan baik atau tidak. Apa yang dihasilkan sebuah survei, hanyalah potret semata, itupun dengan catatan tukang potretnya apakah benar-benar kredibel memotret situasi di lapangan dengan benar dan tepat.

Kepantasan

Jadi, hasil survei yang dilakukan tak boleh dipercaya seutuhnya, karena yang lebih penting bagi suatu pasangan calon adalah sosialisasi kepantasan dirinya menjadi pemenang. Kadang hanya dengan rajin layat dan jagong di kawasan perdesaan, sudah cukup sebagai bekal memenangkan pilihan kades atau bupati dari pada rapat umum atau kampanye. Toh, rakyat tak selalu menilai dari program kerjanya, tapi kehadiran di layatan atau hajatan itu sebagai unjuk setia pada warganya.

Seringkali para juru taktik tim sukses, tak suka melihat bagaimana suatu partai punya potensi untuk mendukung kemenangan, karena tak tersedia cukup informasi untuk menilai seberapa kuat potensi seluruh sistem dalam partai tersebut mampu menjadi pemicu kemenangan. Kebanyakan calon hanya melihat jumlah anggota dewan dari suatu partai di lembaga legislatif sebagai alat ukur potensi partai tersebut. Semakin banyak memiliki anggota dewan, dianggap punya potensi besar dan sekaligus menjadi alat bargaining antara pengurus partai dengan pasangan calon (dan mungkin rupiahnya pun makin tebal pula). Ketiadaan alat analisis inilah, yang menyebabkan proses tawar-menawar menjadi absurd. Bahkan suatu partai besar pun seringkali terjebak dalam kekalahan karena telanjur memilih pasangan calon yang kurang pantas diadu dalam kontestasi pilkada. Sebaliknya figur yang bagus pun seringkali tersingkir oleh peristiwa pasar gelap yang tak sempurna tadi. Inilah penyebab, kenapa banyak pilkada menghasilkan figur terpilih ternyata tak sesuai harapan masyarakat. Sementara partai pengusung yang memenangkan pun tak peduli dengan harapan masyarakat pemilih tersebut.

Pertanyaan pokok, apakah ada alat analisis untuk menilai potensi partai politik dalam mendukung kemenangan figure yang ingin maju ke pilkada?

Jawabannya, pastilah ada, tetapi memang tak banyak yang mengerti teknik analisis berikut ini. Teknik analisis ini dikenal sebagai fundamental analysis, yang objeknya adalah untuk menguji seberapa kekuatan sistem dalam suatu partai politik mampu mewujudkan tujuan organisasi. Konten teknik analisis ini tak jauh beda dengan fundamental analysis dalam investasi di bursa saham, tetapi diterapkan dalam organisasi politik. Jika organisasi bisnis, tujuan yang ingin dicapai adalah profitabilitas dalam investasi, maka dalam organisasi politik tujuan yang ingin dicapai adalah representativeness suatu partai politik bagi masyarakat luas.

Kuota

Benar! Jumlah anggota dewan suatu partai dapat mencerminkan kinerja suatu partai politik di daerah. Tetapi itu hanya seperempatnya saja. Masih ada tiga perempat ukuran kinerja yang perlu dicermati dan diurai untuk dapat menyimpulkan kinerja partai sebagai representasi kepentingan rakyat. Kita tidak bisa hanya menggunakan satu parameter saja, yaitu rasio jumlah anggota dewan. Keberadaan mereka belum tentu mencapai kuota penuh tetapi mereka berada di lembaga legislatif terbantu oleh aturan, kebanyakan memperoleh posisi itu dari sisa suara saja.

Kesemua itu mengharuskan analisis kekuatan partai diperluas ke banyak faktor penentu dalam suatu sistem partai itu sendiri. Seperti ratio kekuatan kader partai terhadap pembentukan suara, kondisi finansial partai, ratio dependensi dalam pengambilan keputusan lokal, dan tentu banyak faktor yang perlu diurai sampai sejauh mana tata kelola organisasi dan kapasitas managerial pengurus partai. Dan memang demikianlah teknik fundamental analisis bekerja, sehingga dapat membantu proses pengambilan keputusan yang berbobot.

(Ibnu Subiyanto. Mantan Bupati Sleman. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 26 Desember 2016)

BERITA REKOMENDASI