Sepeninggal Castro, Amerika Buka Diplomatik dengan Kuba

Editor: Ivan Aditya

AMERIKA (KRjogja.com) – Kendati negaranya bermasalah dengan Kuba, Presiden AS Barack Obama justru membuat pernyataan yang menyejukkan terkait kematian Fidel Castro. Ia mengatakan, Amerika Serikat siap mengulurkan tangan persahabatan kepada bangsa Kuba setelah kematian sang revolusioner.

Obama mengatakan ini karena sejak dimulainya normalisasi hubungan kedua negara pada 2014 lalu, hubungan AS-Kuba mulai membaik. Sanksi ekonomi yang telah berlangsung sejak 1962, kemungkinan akan segera dicabut. Obama yakin, warga Kuba tak akan lagi mengingat masa lalu saat Washington-Havana terus-terusan berkonflik, tetapi fokus menjalani apa yang ada di depan dan masa mendatang.

Masalahnya, Obama akan segera lengser pada 20 Januari 2017 mendatang. Sementara penggantinya Donald Trump yang berasal dari Partai Republik yang selama ini membenci komunisme di Kuba. Tak heran, lewat cuitannya, Trump tak menyatakan berduka. Dalam akun Twitternya, Trump hanya menuliskan "Fidel Castro meninggal dunia!"

Kemudian dalam dalam pernyataan resmi yang dikutip AP, Trump menyebut Castro sebagai diktator brutal yang menindas rakyatnya sendiri selama hampir 60 tahun. "Castro meninggalkan warisan kasus penembakan, pencurian. Tak terbayangkan penderitaan, kemiskinan, dan penolakan hak asasi manusia," ujar Trump.

Bisa dilihat bahwa komentar Trump dan Obama soal meninggalnya Castro ini sangat berbeda. Oleh karena itu, sejumlah kalangan khawatir normalisasi hubungan AS dan Kuba yang disponsori Vatikan pada akhir 2014 lalu, akan terganggu jika Trump tak melanjutkkan langkah Obama. Namun, kalangan lainnya memprediksi, kepemimpinan Trump tak akan menghambat jalannya normalisasi hubungan kedua negara. Pasalnya, Kuba sendiri saat ini, secara sistem ekonomi, sudah tak lagi sepenuhnya komunis. (*)

BERITA REKOMENDASI