Soal Pembunuhan Khashoggi, AS Belum Ambil Sikap

AMERIKA Serikat (AS), melalui Kementerian Luar Negeri, menyebut mereka belum mencapai kesimpulan final soal pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, kendati laporan CIA menyebutkan adanya keterlibatan putra mahkota Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman.

"Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri AS, Minggu (18/11).

Sebelumnya, sebuah sumber mengatakan pada media AS bahwa mereka tidak percaya pembunuhan bisa dilakukan tanpa sepengetahuan ataupun persetujuan putra mahkota.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dia akan menerima laporan lengkap mengenai kasus tersebut pada Selasa (20/11) mendatang, yang memberikan garis besar mengenai pihak yang bertanggung jawab atas kematian jurnalis kondang Saudi itu.

Khashoggi, yang kritis terhadap pemerintahan Saudi, tewas setelah memasuki konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober, saat hendak mengurus dokumen pernikahan.

Arab Saudi menyebut Khashoggi tewas karena 'operasi liar'.

Jaksa penuntut umum telah mendakwa 11 orang atas pembunuhan Khashoggi dan mengincar hukuman mati untuk lima orang di antaranya.

Kendati demikian, kecurigaan adanya keterlibatan dari level tertinggi pemerintahan terus mencuat dan Saudi mendapatkan banyak tekanan untuk segera menuntaskan kasus tersebut.

Apa dasar temuan CIA?

Koran Washington Post, media tempat Khashoggi bekerja, menyebut temuan CIA sebagian berdasarkan pada panggilan telepon dari kakak putra mahkota, Pangeran Khalid bin Salman, yang merupakan duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat.

Pangeran Khalid diduga menghubungi Khashoggi atas perintah saudaranya dan meyakinkan Khashoggi bahwa aman baginya untuk pergi ke konsulat Saudi.

Namun, Pangeran Khalid, yang sekarang sudah berada di Saudi, mencuit di Twitter bahwa dia sudah tidak berkomunikasi dengan Khashoggi nyaris selama satu tahun. (*)

BERITA REKOMENDASI