Sudan Selatan Berlakukan Hukuman Mati Bagi Remaja

Editor: Ivan Aditya

SUDAN, KRJOGJA.com – Praktik hukuman mati di Sudan Selatan ternyata juga diterapkan kepada remaja. Menurut lembaga pemantau hak asasi manusia Amnesty International, hukuman mati di negara itu dianggap kelewat batas.

Contohnya adalah hukuman mati terhadap seorang remaja, Philip Deng. Pemuda berusia 15 tahun itu divonis bersalah dalam kasus pembunuhan. Deng mengklaim kejadian itu adalah sebuah kecelakan.

"Saat kecelakaan itu terjadi, saya masih duduk di sekolah menengah. Saya adalah seorang pelari, dan juga seorang penyanyi rohani. Saya berharap bisa keluar dan melanjutkan sekolah. Saya ingin belajar dan melakukan hal-hal yang dapat membantu orang lain," tutur bocah yang akan berusia 17 tahun bulan ini.

Deng dijatuhi hukuman mati dengan digantung pada 14 November 2017. Ia kemudian berunding dengan kuasa hukum dan mengajukan banding atas keputusan pengadilan. Deng dipindahkan dari Penjara Negara Bagian Totrit ke Penjara Pusat Negara Bagian Juba pada September lalu. Kini, ia harap-harap cemas menunggu putusan banding.

Sejak memperoleh kemerdekaan pada 2011, setiap tahunnya Sudan Selatan tercatat melakukan eksekusi hukuman mati, kecuali di 2014. Hukuman mati umumnya dijatuhkan untuk kasus pembunuhan, terorisme, perdagangan narkoba dan pengkhianatan.

Pada 2017, dua dari empat orang yang dijatuhi hukuman mati adalah anak-anak. Di antara total 342 orang terpidana mati, sebagian di antaranya adalah murid sekolah menengah yang dijatuhkan hukuman mati ketika ia masih berusia 15 tahun. Ibu menyusui juga tak luput dari hukuman mati.

Angka tersebut baru meliputi hukuman yang tercatat, melihat kurangnya transparasi Sudan Selatan dalam penggunaan hukuman mati. (*)

BERITA REKOMENDASI