Tampilkan Katana, Emblem Ini Dikritik

TOKYO (KRjogja.com) – Pasukan Bela Diri Jepang, JSDF mendapat kritik setelah emblem barunya menampilkan sebilah pedang katana, pedang khas Jepang, yang keluar dari sarungnya. Mereka yang memprotes beralasan simbol itu membawa memori buruk dari Perang Dunia II, namun pihak militer berpendapat pedang itu melambangkan “pasifisme yang proaktif” sebagaimana tradisi serupa yang dimiliki angkatan bersenjata negara lainnya. 

Emblem yang diperkenalkan oleh angkatan darat pasukan bela diri, GSDF pada tahun ini, menampilkan sebilah pedang yang bersilang dengan sarungnya dengan sebuah matahari merah terletak di atasnya dan bunga sakura di bawahnya. Perhatian tertuju pada katana yang dianggap membangkitkan memori Perang Dunia II yang dikhawatirkan akan menimbulkan antipati dari dunia internasional.

“Di negara-negara Asia dimana orang-orang mengingat pedang tentara kekaisaran Jepang, mereka akan menganggap ini sebagai kembalinya hantu sebelum perang,” tulis Yoko SHinohara, seorang aktivis yang melayangkan petisi online untuk mengubah emblem baru tersebut. “Sebilah pedang Jepang dilepaskan dari sarungnya mengidentifikasi GSDF sebagai organisasi yang suka membunuh. Emblem ini akan mengundang antipati yang besar di luar negeri,” tambahnya sebagaimana dilansir dari Russia Today, Minggu (11/9/2016). 

Menanggapi hal ini, militer Jepang mengeluarkan pernyataan menolak tuduhan tersebut. Mereka menyamakan Emblem ini dengan emblem berbagai negara lainnya di dunia yang juga menampilkan senjata api dan senjata tajam. Katana dipilih sebagai pedang yang menunjukkan semangat rakyat Jepang. 

Pemilihan emblem baru ini dianggap sesuai dengan kebijakan Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe yang menginginkan Jepang memainkan peran dalam militer internasional. Sebelumnya, undang-undang (UU) Jepang pascaperang Dunia II menyebutkan JSDF dilarang untuk bertindak kecuai jika negara itu diserang. Namun, dibawah pemerintahannya, PM Abe berusaha untuk memberikan peran lebih dan mengirimkan meraka untuk membantu sekutu-sekutunya. (*)

BERITA REKOMENDASI