Tawaf dan Sai Lebih Nyaman dengan Skuter

Editor: Ivan Aditya

MAKKAH, KRJOGJA.com – Lintasan tawaf dan sai di lantai 4 Masjidil Haram terasa agak lengang. Mungkin saja karena tempatnya yang cukup tinggi dan jauh dari Kakbah yang membuat jemaah enggan menyambangi tempat tersebut. 

Selain itu dengan tempat yang lebih tinggi, khususnya untuk lintasan tawaf terasa makin panjang. Tak heran jika sedikit yang mau menggunakan lantai tersebut. Hanya saja, ada pemandangan menarik yang dapat dilihat pada lintasan tawaf dan sainya.

Kendaraan mirip sepeda motor matic lalu lalang melintas. Cukup cepat, tapi suaranya halus. Dominasi warnanya hijau. Hanya cukup dikendarai dua orang. Dan memang kendaraan yang lebih dikenal dengan skuter tersebut sengaja disiapkan untuk jemaah yang memiliki keterbatasan saat hendak malaksanakan tawaf dan sai.

"Saya sendiri puas naik itu. Ibu saya yang fisik ya sudah lemah jadi nyaman saat tawaf dan sai," ucap Khairun, jemaah asal Kloter 13 BTH saat dijumpai yang menjadi bagian Tim MCH 2019, Senin (05/08/2019).

Dengan patokan biaya 50 SAR tiap orang untuk sekali jalan tawaf atau sai, warga Kayun Selatan Kalimantan Barat tersebut mengaku tidak terlalu berat jika dibandingkan resiko ketika harus memaksakan diri dengan berjalan saat kondisi tidak memungkinkan.

Harga tersebut diakuinya juga masih lebih murah dari persewaan kursi roda sekaligus pendorongnya yang mematok tarif di atas 100 SAR. Keberadaannya juga sangat membantu bagi jemaah yang tergolong lansia ataupun resiko tinggi (risti).

Menurut Khairun, cara mengendarainya juga tidak terlalu sulit. Butuh waktu sebentar untuk adaptasi. Yang penting pula, tidak membahayakan karena sudah terjaga dari sisi keselamatan.

"Memang untuk lansia lebih baik ada pendampingan. Tapi saya lihat lansia juga banyak yang pakai sendiri. Cara kerjanya mudah dan sederhana," ungkapnya.

Hal senada dikatakan Zainuddin yang berasal dari 50 MES. Karena merasa fisiknya tidak prima untuk melakukan tawaf dan sai secara langsung, ia pilih menggunakan fasilitas tersebut. Dan ia merasa puas bisa menjalankan sendiri tanpa harus merepotkan jemaah atau orang lain, seperti jika menggunakan kursi roda.

Lepas dari adanya pro kontra terkait penggunaan teknologi dalam rangkaian proses ibadah ini, yang pasti jemaah merasa terbantu. Buktinya skuter yang disediakan selalu ramai disewa. Bukan hanya jemaah Indonesia, jemaah dari negara lain pun banyak yang memanfaatkan fasilitas tersebut. (Feb)

BERITA REKOMENDASI