Teror Virus Ebola dari Kongo ke Uganda Meluas Menjelang Natal

UGANDA, KRJOGJA.com – Petugas kesehatan di Uganda tengah bersiap menghadapi kasus Ebola yang bisa terjadi pada saat perayaan Natal 2018. Hal tersebut dipengaruhi virus Ebola yang mematikan kemungkinan menyebar seiring penduduk dari Republik Demokratik Kongo (DRC) bepergian atau berwisata ke Uganda selama momen Natal berlangsung.

Republik Demokratik Kongo saat ini dicengkeram wabah Ebola terburuk kedua. Sebanyak 319 orang meninggal sejak wabah dimulai pada Agustus 2018. Sejauh ini, kasus Ebola lebih banyak tercatat di daerah-daerah yang dilanda konflik, yakni di bagian timur Kongo, tepat berbatasan dengan Uganda.

Infeksi Ebola sekarang dilaporkan hanya berjarak 40 mil dari perbatasan Uganda. Para ahli dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, ada risiko tinggi virus akan menyebar ke Uganda.

Ini karena puluhan ribu penduduk Uganda juga akan mengunjungi toko-toko, keluarga, dan kerabat yang tinggal di Uganda untuk merayakan Natal 2018 bersama.

“Natal adalah masalah khusus. Karena kami tahu, ada banyak perpindahan orang yang bergerak membeli makanan dan mengunjungi keluarga di sini. Kami perkirakan, jumlah orang Kongo yang melintasi perbatasan mungkin meningkat. Sekitar 300.000 hingga 500.000 orang per bulan," jelas Andrew Bakainaga, pejabat senior WHO di Uganda, dikutip dari Express, Senin (24/12/2018).

Penduduk Kongo yang melakukan perjalanan melintasi perbatasan (antara Kongo dan Uganda) diarahkan mencuci tangan dan sepatu menggunakan air yang terklorinasi.

Air yang sudah terklorinasi atau klorinasi air adalah proses penambahan klorin atau hipoklorit pada air. Trik ini digunakan untuk membunuh bakteri dan mikroba tertentu di air.

Adanya langkah tersebut sebagai upaya petugas kesehatan Uganda mengetahui suhu badan agar mengidentifikasi orang yang sudah terinfeksi virus Ebola.

“Kami mendeteksi setiap kasus (Ebola) yang dicurigai lebih awal, sebelum orang itu bertemu lebih banyak orang (di Uganda). Kami menggunakan media radio dan tim kesehatan desa untuk mendidik masyarakat tentang Ebola," tambah Samuel Kasimba, pejabat kesehatan yang bertugas mengkoordinasikan upaya mencegah Ebola memasuki Uganda.

Kasus-kasus Ebola yang dikonfirmasi berada dalam jarak 70 km. Jarak ini terus berkurang dan semakin mendekati Uganda. Bekerja sama dengan WHO, otoritas Uganda telah memvaksinasi sekitar 3.000 petugas kesehatan di garis depan perbatasan untuk melindungi mereka terhadap virus.

Sementara itu, lebih dari 40.000 orang di Republik Demokratik Kongo sudah divaksin. Virus Ebola yang sangat menular pertama kali ditemukan di Kongo pada tahun 1970-an.(*)

BERITA REKOMENDASI