Thailand Dinilai Alami Kemunduran

Editor: Ivan Aditya

BANGKOK (KRjogja.com) – Hasil referendum yang menunjukkan mayoritas warga Thailand mendukung rancangan konstitusi yang dibuat militer cukup mengejutkan karena militer merupakan pelaku kudeta terhadap pemerintahan sah Yingluck Shinawatra tahun 2014 lalu. Hasil perhitungan menunjukkan lebih dari 62 persen pemilih mendukung konstitusi baru buatan militer.

Dukungan warga terhadap pelaku kudeta tersebut muncul karena warga Thailand tak ingin stabilitas terganggu lagi setelah negara mereka dilanda kekisruhan politik pada Mei 2014 lalu saat Yingluck dipaksa mundur oleh militer. Selama beberapa bulan usai kudeta, Thailand dilanda ketegangan yang sempat menganggu sektor perekonomian dan pariwisata.

Namun militer dengan cepat memulihkan keadaan pascakudeta dengan menegaskan bahwa mereka tak akan berkuasa selamanya. Pemilu akan digelar pada 2017. Seraya menunggu momentum tersebut, militer bertugas mengambil alih kekuasaan sementara sampai terbentuknya pemerintahan baru tahun depan.

Sebelum pemilu baru diselenggarakan, militer kembali melakukan manuver untuk mengubah UUD Thailand. Karena tak ingin dianggap sewenang-wenang, militer pun menggelar referendum untuk memastikan agenda mereka mengubah konstitusi direstui rakyat.

Hasilnya, mayoritas warga Thailand mendukung konstitusi baru buatan militer dan hal itu menjadi modal bagi militer untuk menunjukkan kepada dunia bahwa pemerintahan junta yang telah berlangsung sejak Mei 2014 mendapat dukungan warga Negri Gajah Putih.

Sejumlah pasal dalam konstitusi baru buatan militer dinilai beberapa kalangan telah melemahkan nilai-nilai demokrasi yang pada era pemerintahan sebelumnya cukup kuat. Sejumlah pengamat khawatir UU baru yang mengurangi hak-hak demokrasi warga tersebut akan memicu tidak stabilnya ekonomi dan ketidakpastian politik. (*)

BERITA REKOMENDASI