TKI Masamah Bebas dari Hukuman Mati di Arab Saudi, Ini Faktanya

ARAB SAUDI, KRJOGJA.com – Ghalib Nashir Albalawi hanya mengharap rida Allah ketika memberikan maaf kepada Masamah binti Raswa Sanusi, TKI asal Desa Buntet, Cirebon, dalam sebuah persidangan banding di Tabuk, Arab Saudi pada 13 Maret 2017 silam.

Sidang banding kala itu urusan hidup atau mati bagi Masamah, karena ia terancam dieksekusi (qisas) usai dituduh menghilangkan nyawa anak Ghalib yang masih bayi pada Februari 2009 lalu.

Tapi, kalimat maaf yang keluar dari mulut Ghalib kala sidang banding itu pun bak senjata pamungkas. Otomatis membatalkan Masamah dari jerat tali gantung.

"Tanazaltu laha liwajhillah (aku memaafkannya karena mengharap pahala dari Allah)," ucap Ghalib di persidangan sambil terisak dengan suara terbata-bata.

Dengan sedikit terkejut, hakim menanyakan secara berulang kepada Ghalib terkait pernyataan pemaafan (tanazul) terhadap Masamah.

Ghalib menyampaikan bahwa dirinya dengan penuh kesadaran dan ikhlas telah memaafkan Masamah tanpa syarat dan tanpa meminta uang diyat sama sekali. Dia hanya berharap kebaikan serta rida Allah buat dirinya dan Masamah.

Menurut ketentuan hukum pidana berbasis syariah di Arab Saudi, pelaku kasus pembunuhan yang didakwa qisas hanya bisa terbebas dari hukuman itu jika mendapatkan pemaafan dari para ahli waris korban.

Masamah sendiri telah pulang ke kampung halamannya di Desa Buntet, Cirebon sejak 30 Maret 2018.

Perempuan itu juga telah terbebas dari segala macam proses hukum di Saudi, sejak ia menjalaninya pada tahun 2009 silam.

Sebagai bentuk iktikad baik, Ghalib Nashir Albalawi yang memberikan pemaafan atas qisas Masamah, beserta sang istri, juga telah berkunjung ke kampung halaman perempuan itu di Cirebon atas prakarsa pihak Kementerian Luar Negeri RI.

Dalam kunjungannya ke Cirebon, giliran Ghalib yang meminta maaf kepada Masamah.

"Kami menyampaikan maaf kepada Masamah karena semata-mata mengharapkan rida Allah SWT. Islam mengajarkan umatnya untuk saling memaafkan dan membantu sesama manusia," ujar Ghalib melalui penerjemah dari Kemlu RI di Kantor Bupati Pendopo Cirebon, Jumat 4 Mei 2018 lalu.

"Mudah-mudahan, Allah membalas atas kebaikan Masamah yang sudah membalas memberikan maaf," lanjutnya.

Masamah adalah contoh utama bahwa tanazul yang diberikan pihak ahli waris korban mampu melepas seorang terdakwa kasus penghilangan nyawa atau pembunuhan dari vonis hukuman mati.

"Hanya pemberian maaf dari pihak ahli waris yang bisa membebaskan seseorang dari hukuman mati. Itu hak mereka. Bahkan, orang sekelas Raja Salman pun tak bisa mengintervensi hak tersebut," kata Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Muhammad Al Shuaibi di Kedubes Saudi di Jakarta, 7 Mei 2018.(*)

BERITA REKOMENDASI