Tokyo Tak Terbukti Suap Panitia Olimpiade 2010

TOKYO (KRjogja.com) – Pemerintah Kota Tokyo dicurigai melakukan tindak penyuapan agar terpilih sebagai tuan rumah Olimpiade 2020. Namun, kecurigaan tersebut tidak terbukti. Sebuah panitia independen menyatakan Tokyo tidak bersalah.

Tokyo membayar uang tunai senilai USD2 juta (setara Rp26,6 miliar) kepada firma konsultan Singapura bernama Black Tidings. Panel independen tersebut melaporkan bahwa pembayaran uang yang dilakukan Tokyo bukan termasuk tindakan penyuapan.

“Saya yakin kecurigaan atas tindakan penyuapan yang dilakukan oleh tim pemenangan tidak terbukti. Kasus sudah selesai,” ujar pengacara yang memimpin penyelidikan tersebut, Yoshihisa Hayakawa, seperti diberitakan Reuters, Kamis (1/9/2016).

Tim pemenangan Tokyo mengaku tidak tahu adanya hubungan antara Direktur Black Tidings, Ian Tan Tong Han, dengan Papa Massata Diack, putra dari Lamine Diack. Mantan Ketua IAAF itu (Lamine) tengah menghadapi kasus persidangan atas dugaan korupsi di badan olahraga atletik internasional itu.

Uang yang dibayarkan tersebut dianggap terlalu besar bagi seorang konsultan untuk memenangi pemilihan tuan rumah Olimpiade. Namun, Hayakawa menyebut bayaran tersebut cukup layak. Pun begitu, panel independen tidak berhasil mengorek keterangan dari Ian Tan maupun Diack.

Panel independen tersebut juga tidak tahu bagaimana Ian Tan menghabiskan uang bayarannya atau apakah uang tersebut sudah ditransfer ke tangan Lamine-Papa. Jika memang uang itu ditransfer oleh Ian Tan ke Lamine, maka tidak bisa dianggap sebagai tindakan penyuapan karena panitia pemenangan Tokyo tidak tahu hubungan antara kedua pihak tersebut. (*)

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI