Trump Sebut Warga Keturunan Latin Hidup di Neraka

Editor: Ivan Aditya

AMERIKA (KRjogja.com) – Penembakan warga kulit hitam oleh polisi menjadi salah satu topik panas yang diangkat dalam debat pertama calon presiden Amerika Serikat pada Senin (26/09/2016). Calon presiden dari Partai Republik, Donald Trump, pun mengatakan warga keturunan Afrika dan Latin seperti hidup di neraka.

“Warga Afrika – Amerika dan keturunan Latin hidup di neraka karena sangat berbahaya. Mereka berjalan di jalanan, mereka ditembak,” ujar Trump.

Dalam beberapa kasus, kepolisian kerap berdalih bahwa warga kulit hitam yang mereka serang membawa senjata. Sebelumnya, rivalnya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, mengatakan diperlukan adanya reformasi hukum kriminal.

“Kita harus menyita senjata dari tangan orang yang seharusnya tak memilikinya. Kita harus menghentikan wabah kekerasan bersenjata,” ucap Clinton.

Namun menurut Trump, penegakan hukum harus dilaksanakan dan regulasi stop and frisk sebaiknya dilanjutkan. Metode pemeriksaan ini dilakukan di New York, di mana polisi dapat menghalau pejalan kaki dan menanyakan kelegalan senjata warga tersebut jika mereka memilikinya.

Menanggapi pernyataan Trump, moderator debat ini, Lester Holt, kemudian mengatakan bahwa stop and frisk melanggar konstitusi karena lebih menargetkan warga kulit hitam. (*)

BERITA REKOMENDASI