Turki Berminat Belajar Pengelolaan Haji Indonesia

MAKKAH, KRJOGJA.com – Indonesia dinilai berhasil menyelenggarakan seluruh prosesi haji dengan tertib dan teratur meski sebagai negara dengan pengirim jemaah haji terbesar di dunia. Bahkan, jemaah haji Indonesia dikenal paling patuh di antara jemaah lainnya.

Baca Juga: Kemabruran Haji Terefleksi dari Kesalehan Sosial Seseorang

Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Haji dan Umrah Turki Remzi Bircan saat menggunjungi Misi Haji Indonesia di Kantor Urusan Haji Indonesia Makkah, Selasa (20/8).

"Kami ingin sekali belajar bagaimana mengelola haji seperti Indonesia," ujar Remzi. Turut hadir dalam pertemuan tersebut Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag RI Nizar Ali, Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Endang Jumali, Pengendali Teknis PPIH serta Kepala Daerah Kerja Makkah Subhan Cholid.

Menurut Remzi, Indonesia memiliki kuota tiga kali lipat lebih besar jika dibanding Turki. Pasalnya Turki hanya memiliki kuota sebanyak 80 ribu jemaah. Jumlah tersebut terdiri dari 30 ribu jemaah haji khusus dan 50 ribu jemaah haji reguler.

Namun begitu, dengan jumlah jemaah yang besar Indonesia dinilai dapat mengorganisasi dengan baik. Padahal menurut Remzi, membawa 80 ribu jemaah melakukan pergerakan dari Makkah ke Arafah, kemudian dari Arafah ke Mina sudah menjadi kesulitan tersendiri.

"Kami bermaksud membangun silaturahmi untuk kemudian dapat berbagi ilmu dan pengalaman dengan Indonesia. Pembicaraan ini kami harap dapat dilanjutkan di Jakarta Indonesia ataupun di Ankara Turki,” ucapnya.

Sementara Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Nizar Ali menyampaikan terimakasih atas apresiasi yang diberikan. Nizar mengakui Indonesia dipandang sebagai pengelola ibadah haji yang rumit, karena dari sisi jumlah jemaah haji terbesar di dunia. Selain itu Indonesia juga dikenal jemaah haji yang paling tertib, paling penurut, sehingga hal itu yang membuat Turki ingin belajar dari Indonesia.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama 45 menit tersebut, Remzi juga takjub antara perbandingan jumlah jemaah dengan petugas haji. Turki memiliki 2.500 petugas untuk melayani 80 ribu jemaah haji. Sementara, Indonesia hanya memiliki 4.300an petugas untuk melayani 231 ribu jemaah haji.

“Mereka tadi sempat kaget juga dengan jumlah hotel yang kita sewa di Makkah. Di Makkah ini Indonesia menyewa 173 hotel, sementara di Madinah ada 106 hotel. Mengorganisasi ini jelas tidak mudah,” kata Sri Ilham.

Belum lagi menurut Sri Ilham, jumlah maktab jemaah haji Indonesia di Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) jauh lebih besar dari Turki. Sebanyak 214 ribu jemaah haji reguler Indonesia pada 1440H/2019M ini terbagi dalam 73 maktab, sementara Turki hanya memiliki 12 maktab untuk 50 ribu jemaah.

“Banyak sebenarnya yang ingin dibicarakan, tapi kali ini waktunya terbatas. Nanti Insya Allah akan dilanjutkan di Indonesia atau Turki,” tutur Sri Ilham. (Feb)

BERITA REKOMENDASI