Webinar Kebangsaan ‘Negoisasi Ala Diplomat’

Panelis terakhir, Abdurrahman M. Fachir menyampaikan bahwa Dubes sebagai negosiator harus dapat berhubungan dengan siapapun di negara akreditasi dengan pihak-pihak yang mempunyai kewenangan masing-masing. Pihak tersebut antara lain adalah pemerintah, pebisnis, perguruan tinggi, dan LSM.

 

Di sektor ekonomi, A.M. Fachir secara lugas menyampaikan sejumlah data tentang arti penting kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Mesir. Hal ini tentu cerminan dari tugas dan fungsi yang terkait dengan promoting di bidang kerja sama ekonomi. Dalam tulisan yang berjudul “Angka itu Penting, Bung: Membumikan Diplomasi Ekonomi di Mesir“ dengan gamblang A.M. Fachir yang menjadi Duta Besar RI untuk Mesir periode 2007– 2011 menyodorkan fakta tiga investor besar Indonesia berhasil melakukan ekspansi bisnis ke Mesir dengan total investasi sebesar USD 250 juta.

 

”Dari kunjungan para pengusaha Mesir ke Trade Expo Indonesia (TEI) 2008 dicapai transaksi senilai USD 28,47 juta yang menempatkan Mesir pada peringkat pertama untuk pasar nontradisional”, kata Fachir. Sementara itu, melalui tulisan lain A.M. Fachir menaruh harapan besar agar persahabatan Indonesia–Mesir seperti dituangkan dalam kerja sama pendidikan dengan Al Azhar dapat terus dibina atas dasar saling menguntungkan. Dalam hal ini, diplomat bertugas sebagai fasilitator untuk menciptakan interaksi yang produktif.

Seminar diselingi dengan tanya jawab peserta dan membahas persoalan yang beragam, termasuk masalah sengketa bersenjata di Azerbaijan-Armenia, isu kelapa sawit dan peranan Indonesia dalam merekonsiliasi perdamaian di Filipina bagian selatan. (*)

 

BERITA REKOMENDASI