Aksi Ugal-ugalan ‘Keplek Miring’ Meresahkan

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR (KRjogja.com) – Aksi ugal-ugalan pengendara sepeda motor atau yang sering disebut ‘keplek miring’ di jalur ekstrem lereng Gunung Lawu meresahkan warga. Keplek miring merupakan istilah berbelok ekstrem di jalur tak rata di atas sepeda motor untuk memantik adrenalin. Buntut aksi tersebut warga di sekitar kawasan lokasi balapan memasang ranjau oli.

Diduga ceceran oli dan pasir di sejumlah tikungan tajam mulai Karangpandan ke Tawangmangu dilakukan warga lokal yang jengah dengan tindakan motor keplek miring. Tikungan tajam di simpang tiga Keprabon dekat patung Semar, Karangpandan merupakan lokasi paling sering terjadi kecelakaan akibat aksi nekat itu.

“Mereka datang dalam rombongan sepeda motor. Lampu dan spion tidak standar. Bikin bising. Kemungkinan ada yang tidak suka dengan aksi mereka, sehingga memasang oli dan pasir di jalan supaya pengendara keplek miring celaka. Eh, malah jatuh korban dari warga sendiri, terutama pedagang sayur bronjong,” kata seorang sukarelawan Karangpandan (rendan), Ade kepada KRjogja.com, Jumat (05/08/2016).

Lurah Blumbang, Tawangmangu Sugiyarto tak menampik jalan tembus Tawangmangu-Magetan di wilayahnya dan Desa Gondosuli menjadi lokasi favorit melakukan aksi ugal-ugalan pengendara sepeda motor. Terkait ranjau oli, hal itu juga dibenarkannya. “Berulangkali warga kami celaka karena sepeda motornya terpeleset ceceran oli,” jelasnya.

Meski warganya geram dengan aksi ugal-ugalan itu, namun ia membantah ranjau oli merupakan balasan dari warga sekitar. Ia justru menuding pengendara keplek miring menumpahkan oli secara sengaja agar menambah tantangan bermanuver.

Sementara itu Kapolsek Tawangmangu, AKP Riyanto mengatakan patroli intensif efektif mengurangi aksi ugal-ugalan dan balapan liar. Ia masih menoleransi keberadaan klub-klub motor asal Solo dan sekitarnya yang berkumpul di Tawangmangu pada Sabtu malam, asalkan mereka tak melanggar lalu lintas. (M-8)

BERITA REKOMENDASI