Amankan Sepeda Tetangga Malah Dituntut Enam Bulan Penjara

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Puluhan warga Dusun Getasan Desa Glodogan Klaten Jawa Tengah (Jateng) mendatangi kantor DPD Federasi Advokat Republik Indonesia (Ferari) DIY di Nologaten Depok Sleman, Rabu (23/12/2020). Kedatangan mereka untuk mengadukan nasib dua orang warga yang dijebloskan ke penjara setelah didakwa melakukan perbuatan pidanan yang susungguh hal itu tak pernah dilakukannya.

Saat ini kasus yang menimpa dua orang warga Getasan masing-masing Rohmat Widodo (34) dan Sapto Widiyanarko (34) telah bergulir serta disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Klaten. Jaksa menuntut keduanya dengan kurungan 6 bulan penjara karena dianggap melanggar pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan.

Siswanti (32) istri Rohmat mengatakan suaminya sama sekali tidak bersalah. Justru apa yang dilakukan oleh suaminya beserta Sapto pada saat itu yakni bersama menggagalkan upaya tindak pencurian yang terjadi di kampung mereka.

“Suami saya orang baik, ia tidak pernah melakukan hal seperti yang dituduhkan kepadanya. Yang dilakukannya baik, tapi malah dipenjara,” kata Siswanti yang tengah hamil tujuh bulan ini, didampingi Susi Handayani (34) istri Sapto.

Baik Siswanti maupun Susi memohon keadilan dan meminta agar suami mereka dibebaskan tanpa syarat. Bahkan mereka berdua serta warga Getasan siap menjadi penjamin agar penahanan terhadap Rohmat dan Sapto yang telah berlangsung selama tiga bulan ini dapat ditangguhkan.

Ketua Ferari DIY, Rohmidhi Srikusuma SH MH sekaligus kuasa hukum kedua terdakwa mengatakan tuntutan jaksa dengan 6 bulan penjara sangat tidak masuk dalam logika hukum. Seharusnya dua orang kliennya itu bebas demi hukum karena mereka tidak bersalah serta tak melakukan apa yang didakwakan.

Rohmidhi mengatakan saat ini ia tengah menyiapkan pledoi kedua terdakwa yang akan dibacakan pada persidangan Selasa (29/12/2020) mendatang. Seluruh bukti, keterangan saksi-saksi serta fakta persidangan yang selama ini telah terungkap akan disampaikannya dalam pembelaan di hadapan majelis hakim.

“Pasal 59 ayat 1 KUHP menyatakan barang siapa melakukan perbuatan dan perbuatan itu tepaksa dilakukan karena untuk membela diri atau orang lain, membela kehormatan atau kesusilaan, atau menyelamatkan barang milik orang lain atau milik sendiri, maka itu tidak dapat dipidana. Ini harus menjadikan perhatian majelis hakim,” tegas Rohmidhi.

Seperti diceritakan Rohmidhi, kasus yang menimpa kliennya itu terjadi pada akhir Januari 2019 silam. Sapto yang merupakan pemilik bengkel las malam itu tengah lembur bersama Rohmat untuk menyelesaikan pengerjaan.

Saat itu Rohmat melihat seseorang yang kemudian diketahui bernama Yuniadi Isnianto (27) alias Londo menuntut sepeda milik tetangganya. Ia bersama Sapto lalu mengejar orang tersebut menggunakan sepeda motor dan berhasil menghentikannya di depan sekolah dasar desa setempat yang berjarak sekitar 300 meter dari bengkel las.

Ketika disuruh berhenti Londo tak menghiraukannya dan malah terus mengayuh sepeda dengan kencangnya. Rohmat yang membonceng motor di belakang kemudian menendang sepeda tersebut sehingga membuat Londo terjatuh dan segera bangun melarikan diri.

Sapto meminta Rohmat tetap berada di tempat itu untuk mengamankan sepeda, sedangkan ia kembali mengejar menggunakan motor. Saat itu ada dua orang tak dikenal dengan berboncengan motor juga berada di lokasi.

“Menurut kesaksian Sapto, dua orang ini kemudian turut mengejar dan berhasil menangkap Londo di Lapangan Glodokan. Sapto dari kejauhan melihat dua orang ini memukuli Londo dan saat ia tiba di lapangan, mereka telah pergi,” jelasnya.

Rohmidi mengatakan setelah kejadian tersebut orang tua Londo membuat laporan di Kepolisian dan akhirnya petugas menetapkan Rohmat serta Sapto sebagai tersangka kasus pengeroyokan. Dalam berita acara pemeriksaan (BAP) disebutkan jika Londo tidak melakukan pencurian namun meminjam sepeda untuk membeli rokok lalu dikeroyok oleh Rohmat dan Sapto.

“Jadi ada keganjil dalam kasus ini, seolah ada yang dipaksakan sehingga menjadikan Rohmat dan Sapto sebagai tersangka kemudian terdakwa. Kepolisian seharusnya sejak awal mencari dua orang yang saat itu berada di lokasi kejadian karena merekalah pelaku pengeroyokan, bukan klien kami,” tegasnya. (Van)

BERITA REKOMENDASI