Anak Penggal Kepala Ibu

Editor: Ivan Aditya

KEBUMEN, KRJOGJA.com – Seorang ibu tewas mengenaskan dengan kondisi kepala dan badan terpisah setelah dipenggal oleh anak kandungnya sendiri. Peristiwa miris itu terjadi di persawahan Desa Bocor Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen, Jumat (09/03/2018) sekitar pukul 13.00 WIB. Korban diketahui bernama Sutarmi (54), warga Desa Bocor yang kesehariannya penjaja makanan dan minuman bagi para petani yang bekerja di sawah.

Peristiwa terjadi saat korban berada di persawahan sebelah timur SMPN 1 Buluspesantren, didatangi Sungudi (30), yang tidak lain anak kandungnya sendiri. Keterangan yang dihimpun dari lokasi kejadian menyebutkan, Sungudi yang datang dengan menggunakan sepeda, memaksa meminta uang Rp 500 ribu dengan alasan yang tidak jelas.

Oleh ibunya tidak diberi karena tidak memiliki uang sebanyak itu. Korban kemudian pergi melanjutkan menjajakan dagangannya. Tanpa diduga, Sungudi mengejar sambil mengacungkan senjata tajam berupa bendho (golok) yang semula disimpan di dalam tas.

Korban sempat lari menghindari kejaran, namun langkahnya kalah cepat hingga peristiwa nahas terjadi. ”Kami tidak berani mendekat, takut karena pelaku kalap sambil mengacung-acungkan senjata tajam,” ujar Jumadi (49), petani Desa Bocor yang saat kejadian berada dalam jarak sekitar 30 meter dari tempat kejadian perkara (TKP).

Kapolsek Buluspesantren AKP Surono yang memimpin olah kejadian perkara mengamankan sebilah golok berlumur darah yang diduga kuat digunakan pelaku. Surono juga membenarkan kepala korban terputus dari tubuh. ”Terduga pelaku kemudian kabur dan masih dalam pengejaran,” ujarnya.

Sejumlah tetangga korban yang ditemui mengungkapkan, Sungudi hidup sendiri di rumah orangtuanya di Dukuh Kejayan Desa Bocor. Sedangkan korban tinggal di rumah anak perempuannya. Sementara bapaknya, pergi karena diancam dibunuh oleh Sungudi yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa.

”Warga sudah lama resah dengan kelakuan Sungudi yang selalu membawa senjata tajam dan mengancam membunuh siapa saja yang dianggap musuh. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Sungudi menjual buah kelapa yang dipetik sendiri dari pohon milik orang lain dengan tanpa izin. Kalau diperingatkan, ia mengamuk sambil mengancam membunuh,” ungkap sejumlah warga. (Suk)

BERITA REKOMENDASI