Bebas dari Tahanan, Pemborong Balik Lakukan Pelaporan

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Sutoto Hermawan (45) seorang pemborong warga Karangasem Gilangharjo Pandak Bantul akhirnya bisa menghirup udara bebas, Jumat (01/11/2019). Hampir selama empat bulan Sutoto Hermawan ditahan di LP Pajangan setelah Bernadeta Rita Dwi Prasetyaningsih melaporkannya atas tuduhan penipuan dan penggelapan.

Sutoto mengaku bersyukur atas pembebasan dirinya. Justu ia kini bertekad akan melakukan langkah hukum terhadap orang yang telah menjebloskannya ke dalam tahanan.

Ia menegaskan dirinya sejak awal tidak mempunyai itikad buruk ketika diminta membangun rumah oleh Bernadeta Rita Dwi Prasetyaningsih. Ia benar-benar tunduk pada kesepakatan yang ditandatanganinya di hadapan Notaris.

Persoalan muncul karena justru karena Rita menghentikan sepihak pembangunan rumah tersebut. Ia lalu mengadukan ke polisi hingga bergulir ke pengadilan dan dilakukannya penahanan terhadap Sutoto.

"Sebenarnya memang terikat hubungan perjanjian pembangunan rumah yang kalau ada sengketa diselesaikan secara musyawarah keperdataan. Tapi ujungnya seperti ini, saya dipolisikan walau akhirnya dibebaskan hakim," kata Sutoto.

Melalui kuasa hukumnya Thomar Nur Edi Dharma SH dan Muhammad Novweny SH, Sutoto kini sedang menyusun langkah hukum yang akan ditempuh. Hal yang bakal ditempuh yakni mengadukan balik Rita ke Kepolisian maupun gugatan pemuliah nama baik dan ganti rugi kepada pemerintah.

“Ini preseden buruk menurut kami, sekaligus koreksi buat penyidik dan penuntut agar lebih hati-hati memidanakan seseorang. Kami apresiasi putusan hakim, tapi bagaimana dengan kerugian yang telah diderita oleh klien kami akibat penahanan?” tegas Thomas.

Thomas mengungkapkan, ketika pengerjaan pembangunan rumah dihentikan sepihak maka kliennya sebenarnya sudah mengajukan gugatan perdata ke PN Bantul. Tapi pada saat yang hampir bersamaan, kliennya diadukan oleh Rita ke kepolisian dan ditetapkan sebagai tersangka.

“Kami sejak awal sudah menyatakan penetapan status tersangka dan penahanan terhadap klien kami tidak cukup alasan karena merupakan kasus perdata. Tapi penyidik keukeh, sehingga kami sempat mengajukan praperadilan walau tidak diterima,” paparnya.

Setelah gagal praperadilan, lanjut Thomas, kliennya disidangkan dan dituntut hukuman penjara 2 tahun karena dianggap menipu dan menggelapkan uang oleh jaksa Maria Gorita Sunarwasih SH. Namun nyatanya hakim memvonis melepas klien kami karena tidak terbukti melakukan penipuan maupun penggelapan.

Novweni menambahkan, langkah hukum ini ditempuh sebagai pembelajaran bersama bahwa memidanakan seseorang harus benar-benar dengan pertimbangan hukum yang jeli. Novweni mengungkapkan, selama kliennya ditahan mengalami kerugian materiil yang tidak sedikit karena ada sejumlah proyek yang tertunda.

"Dalam konteks ini negara wajib melindungi klien kami untuk memperoleh pemulihan harkat, martabat. Selain itu, kami juga akan melapor balik pelapor,” pungkasnya. (*)
 

BERITA REKOMENDASI