Berniat Membantu Teman, Malah Terancam Pidana

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Berniat membantu permasalahan yang dialami temannya, Arif (36) warga Mergangsan Yogyakarta malah terancam pidana. Ia dianggap melakukan tindakan penganiayaan sebagaimana diatur dalam pasal 351 KUHP dan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dituntut 1 tahun kurungan penjara. Terdakwa menilai banyak kejanggalan dalam kasus yang dialaminya menimpanya itu.

Dalam pledio yang dibacakan di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Senin (22/11/2021) yang dipimpin Novita Ari Dwi Ratna Ningrum MH, Arif menegaskan apa yang dituntutkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Basaria Marpaung SH kepadanya tidaklah benar. Menurutnya jaksa banyak mengabaikan fakta di persidangan, terutama keterangan saksi-saksi.

“Pada tuntutan menurut saya tidak sesuai fakta persidangan. Hal ini sangat disayangkan karena sangat merugikan saya,” kata Arif.

Ia mengatakan permasalahan ini tidak berdiri sendiri, namun ada penyebab awal sehingga menyeret dirinya menjadi pesakitan. Selain itu apa yang ia lakukan sebenarnya tak seperti disampaikan saksi korban, apalagi sampai muncul visum menunjukan terjadinya tindak kekerasan. “Saksi korban tidak bisa menggambarkan suatu peristiwa yang menganggambarkan hasil dalam visum,” tandasnya.

Permasalahan ini bermula pada pertengahan tahun 2019 silam. Saat itu Aryo, seorang karyawan teman Arif menyewa satu unit mobil di sebuah rental kawasan Sewon Bantul.

Tiga bulan kemudian Aryo memindahkan penyewaan mobil tersebut kepada seorang perempuan bernama Iin. Awalnya selama seakitar dua bulan Iin rutin membayarkan uang sewa mobil kepada Aryo dan pria ini langsung meneruskan pembayaran kepada pihak rental.

Namun setelah itu Iin mulai macet membayar dan wanita tersebut sulit dihubungi. Aryo akhirnya melaporkan permasalahan ini kepada pihak rental untuk dapat melacak melalui akses Global Positioning System (GPS).

Setelah dilakukan pelacakan akhirnya diketahui jika mobil berada di wilayah Magelang Jawa Tengah. Dari penelusuran yang dilakukan dikatakan mobil ini berada di tangan penadah, kemudian pihak rental meminta Aryo untuk menebus kendaraan tersebut sebesar Rp 30 juta.

Arif yang merasa kasihan kepada Aryo berniat membantu untuk menebus mobil tersebut. Setelah soal harga disepakati, namun tiba-tiba pihak rental mengatakan jika uang tebusan tidak jadi Rp 30 juta melainkan Rp 35 juta.

Saat pemilik rental menuju Magelang, Arif juga berinisiatif untuk ke kota tersebut guna memastikan keberadaan mobil sewaan itu. Saat melintas di Jalan Magelang tepatnya di kawasan Morangan Sleman ia menjumpai mobil yang dikendarai pemilik rental.

Arif kemudian berhenti dan mendatanginya kemudian menarik tangan orang tersebut saat hendak menelphon. Pemilik rental kemudian keluar mobil lalu spontan oleh Arif tubuhnya didorong.

“Saya hanya menarik dan mendorong, namun dalam visum muncul adanya luka. Visum dibuat pukul 20.00 WIB, saya berpisah dengan dia pukul 18.00 WIB berarti ada jeda dua jam,” ungkapnya.

Arif meyakini apa yang dilakukannya tidak akan menimbulkan adanya luka, namun dalam visum terdapat luka. Ia justru mempertanyakan jeda waktu selama dua jam itu pelapor melakukan hal apa sehingga menjadi terluka. Hal inilah yang menurutnya penuh kejanggalan.

Ia berharap majelis hakim dapat menilai kasus ini dengan jernih. Fakta-fakta dalam persidangan hendaknya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam memutus perkara ini nantinya. (Van)

BERITA REKOMENDASI