Didakwa Lakukan KDRT, Istri Bantah Kesaksian Suami

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Adina Ersa, ibu rumah tangga yang duduk di kursi pesakitan lantaran dilaporkan suaminya sendiri, Arnold Dwi Novrianton atas kasus dugaan tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebagaimana diatur dalam pasal 45 ayat 1 Undang-undang RI no 23 tahun 2004 membantah kesaksian para saksi. Ia menegaskan pernyataan yang disampaikan saksi di muka persidangan, termasuk kesaksian suaminya itu tidak benar.

“Tidak benar yang mulia. Apa yang dikatakan semuanya itu tidak benar,” kata Adina Ersa di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sleman yang dipimpin Suratni SH, Senin (14/06/2021).

Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi yang diajukan Jaksa Penuntu Umum (JPU) Lintang SH ini mengahadirkan dua orang. Saksi pertama yakni pelapor dan saksi kedua Erna Eri Susanti yang merupakan tetangga pasangan Arnold Dwi Novrianton – Adina Ersa saat tinggal di Cebongan Lor Tlogoadi Mlati Sleman.

Arnold Dwi Novrianton mengatakan anak mereka, YRA yang saat itu masih berusia 2,5 tahun sering mendapat perlakuan kasar dari terdakwa. Tindakan kasar yang dimaksud yakni terdakwa sering memarahi, membentak bahkan tak segan-segan mengurung bocah tersebut.

“Kalau yang saya lihat sering dimaki-maki mamanya. Sering juga dibentah-bentak masalah makan, masalah pup (buang air besar),” ungkap Arnold Dwi Novrianton.

Peristiwa tersebut menurutnya terjadi sekitar bulan Juli 2019 saat mereka mengontrak rumah di Cebongan Lor. Menurut Arnold Dwi Novrianton perbuatan itu dilakukan tak hanya sekali, bahkan berkali-kali setiap kali istrinya marah.

Arnold Dwi Novrianton juga mendapat laporan jika YRA pernah dikurung di dalam mobil, ketika terparkir di carpot rumah maupun ketika diajak terdakwa keluar. Bahkan menurutnya anak balita tersebut juga dikurung dalam mobil di parkiran salah satu pusat perbelanjaan sampai satu jam lamanya.

“Ada teman saya yang mengikuti dari Pegadaian Jombor ke Toko Mutiara kosmetik (di dalam mobil) sekitar 15 menit, setelah itu ke Jogja Tronik. Hampir 1 jam dalam kondisi mobil hidup ditinggal sendirian, dikasih hand phone dan es krim,” terangnya.

Kesaksian hampir sama disampaikan Erna Eri Susanti. Ia menyatakan pada suatu hari mendengar terdakwa bersuara dengan nada tinggi seperti sedang marah di dalam rumah, namun dengan menggunakan bahasa daerah. Setelah itu terdengar suara tangisan anak-anak lalu kemudian itu terdengar suara pintu mobil ditutup.

“Pas posisi nangis terdengar suara mobil pintu ditutup. Saya takutnya mainan (di dalam) mobil lalu saya lihat dari samping tapi kacanya hitam semua, tapi saya dengar tangisan (YRA),” katanya.

Ditemui usai persidangan kuasa hukum terdakwa, Zulfikri Sofyan SH menyatakan semua kesaksian yang disampaikan itu tidak benar. Ia menegaskan kedua saksi menyampaikan kesaksiannya hanya berdasar asumsi saja dan tidak melihat sendiri.

“Dikatakan mengurung di dalam mobil, saksi pertama mendengar dari cerita temannya dan saksi kedua tidak melihat karena mobil kacanya gelap, ini kan merupakan asumsi. Termasuk mengatakan terdakwa marah dalam bahasa daerah, apa saksi dua tahu arti dari bahasa yang dikatakan terdakwa itu? Orang Minang kalau bicara keras dan seperti membentak, tapi dia sebenarnya tidak marah,” kata Zulfikri Sofyan didampingi Ivan Bert SH dan Tidar Setiawan SH.

Zulfikri Sofyan juga meluruskan, kejadian yang disebut oleh saksi pelapor bahwa terdakwa mengurung YRA di tempat parkir salah satu pusat perbelanjaan itu sama sekali tidak benar. Fakta yang terjadi saat itu terdakwa hendak keluar sebentar ke pusat perbelanjaan mengambil barang, namun YRA tidak mau ikut dan mengatakan tetap ingin berada di mobil.

“Akhirnya YRA ditinggal, itu pun ditinggali hand phone dan selama di dalam Jogja Tronik terdakwa video call untuk mengetahui keadaan anak tersebut. Demi keamanan maka mobil dikunci dan itu tidak sampai 1 jam,” tegasnya.

Menurut Zulfikri Sofyan, justru Adina Ersa yang sebenarnya menjadi korban KDRT dari perbuatan suaminya sendiri. Sudah hampir satu tahun ia mengalami kekerasan psikologis karena dipisahkan dari YRA lantaran Arnold Dwi Novrianton membawa bocah itu ke Pati Jawa Tengah untuk dirawat oleh orangtuanya. (Van)

BERITA REKOMENDASI