Dua Mata Pelajaran Tak Diajarkan, Namun Keluar Nilai dalam Ijazah

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Erika Handriati terkejut melihat adanya nilai mata pelajaran ‘Pendidikan Agama dan Budi Pekerti’ serta ‘Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan’ pada ijazah kelulusan anaknya. Pasalnya dua mata pelajaran itu selama ini tak pernah diajarkan oleh Yogyakarta Independent School (YIS) kepada anaknya, Adl.

Hal ini terungkap dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Kamis (26/08/2021). Sidang dengan dakwaan pasal 266 KUHP tentang memalsukan keterangan pada akta otentik ini menyeret nama Bendahara YIS, Supriyanto sebagai terdakwa.

“Saya cukup kaget juga ada (nilai) Pendidikan Agama dan PPKn. Lalu saya tanya pada anak saya, memang selama ini diajarkan agama? Jawabnya tidak. Kalau PPKn? Anak saya malah tanya PPKn itu apa?” ungkap Erika Handriati di hadapan majelis hakim yang dipimpin Adhi Satrija Nugroho SH.

Ibu rumah tangga warga Kalasan Sleman ini kemudian memeriksa raport anaknya dan memang benar ternyata mata pelajaran ‘Pendidikan Agama dan Budi Pekerti’ serta ‘Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan’ tidak ada di sana. Bahkan pada jadwal pelajaran yang dibagikan kepada siswa tiap semester, dua mata pelajaran itu juga tidak ditemukan.

Sebagai orangtua dan wali murid, Erika Handriati telah berusaha meminta penjelasan kepada sekolah akan hal itu namun ia tak pernah mendapat jawaban atas munculnya nilai mata pelajaran tersebut. Bahkan permasalahan ini sempat dimediasi oleh Kemendikbud, tetapi tetap saja Erika Handriati tidak memperoleh kejelasan perihal adanya dua nilai itu.

Perihal peran Supriyanto dalam permasalahan nilai ijazah tersebut, Erika Handriyati mengaku tidak mengetahui. Yang ia tahu terdakwa selama anaknya bersekolah di YIS merupakan karyawan di sekolah bertaraf internasional tersebut yang bekerja pada bagian keuangan.

“Sebagai orang tua siswa, saya pandang itu merupakan internal sekolah. Jadi kami meminta ijazah kemudian diberi petunjuk (bahwa ijazah) akan diberikan lagsung oleh bapak Supriyanto. Saya iyakan saja,” ungkanya.

Erika Handriati mengaku sangat kecewa dengan pihak sekolah atas ijazah tersebut. Besarnya biaya dibayarkan setiap tahun yang nominalnya mencapai puluhan juta rupiah tak sebanding dengan ilmu pendidikan diperoleh bagi anaknya, bahkan saat itu Adl sama sekali tidak hafal Pancasila apalagi nilai-nilai sila terkandung di dalamnya.

Saksi lain yang dihadirkan dalam persidangan, Anna Indah Sylvana yang merupakan karyawan front office di YIS mengungkapkan pernah disuruh Supriyanto untuk menuliskan ijazah. Perempuan ini mengaku disodori blangko kosong ijazah dari Supriyanto untuk ditulis.

Ia disuruh Supriyanto untuk menulis ijazah karena terdakwa pernah melihat tulisan tangan Anna Indah Sylvana yang dinilainya bagus. “Saya hanya mau mengerjakan ini kalau data sudah lengkap. Setelah data lengkap saya kerjakan,” katanya.

Sementara itu kuasa hukum Supriyanto, Odie Hudiyanto SH saat ditemui di luar persidangan menegaskan akan membuktikan jika dakwaan jaksa tidak benar. Ia siap menghadirkan saksi-saksi untuk membuktikan eksepsi yang pernah disampaikan terdawa adalah benar.

“Kami akan menghadirkan saksi-saksi yang bakal menguatkan eksepsi. Saksi ahli akan juga kami hadirkan baik akademisi maupun dari dunia pendidikan, kami punya semua bukti-bukti itu,” tegasnya didampingi Anton Samudra SH. (Van)

BERITA REKOMENDASI