Dua Tahun Laporan Berakhir Penghentian Penyelidikan, Pengusaha Asal Yogya Mengadu Kepada Kapolri

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Yohanes Irwan Cahya Nugraha mempertanyakan laporan kasusnya yang dihentikan oleh Polres Sragen. Dua tahun mencari keadilan, pengusaha asal Yogya ini harus mendapat kenyataan dengan keluarnya Surat Penetapan Penghentian Penyelidikan (SP2 Lid) bernomor SK.Lidik/235.E/IX/2021/Reskrim. Laporan yang dibuat pada 2 Agustus 2019 silam itu dinilai tidak memenuhi unsur yang dipersangkakan yakni pasal 362 KUHP.

Kuasa hukum Irwan, Dadang Danie SH merasa heran dengagn penghentian penyelidikan tersebut. Padahal semua alat bukti sudah lengkap disertakan mulai dari foto terjadinya pencurian dan pengrusakan.

Salinan 64 lembar nota invoice sebagai bukti kepemilikan perlengkapan stone crusher juga sudah diserahkan pada kepolisian sebagai bukti pelengkap. Selain itu lebih dari 20 saksi telah diperiksa petugas dalam kasis ini

“Dengan alasan tidak memenuhi unsur pasal yang dipersangkakan Polres Sragen menghentikan penyelidikan. Lalu selama dua tahun ini apa saja yang telah dikerjakan?” kata Dadang Danie di Yogya, Selasa (17/11/2021).

Ia mengungkapkan kasus ini berawal ketika Irwan melaporkan kasusnya ke Polda Jateng dua tahun lalu dengan Laporan Polisi No: LP/B/281/VIII/2019/Jateng/Dit Reskrimum. Laporan ini menyusul terjadinya tindak pencurian dan perusakan pada 27 Juli 2019 sekitar pukul 10.00 WIB pada saat Irwan menunggu anaknya yang sedang kritis di RS Pratama Jogyakarta.

Pencurian dan perusakan itu dilaporkan oleh Welly (mandor PT Flash) yang mengatakan datang segerombolan orang dengan menggunakan kendaraan masuk ke lokasi stock fields di Dusun Ngrejeng Desa Jambeyan Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen. Gerombolan yang tidak dikenal itu kemudian melakukan pembongkaran terhadap mesin stone crusher dan melakukan pengerusakan terhadap beberapa bangunan serta pencurian perlengkapan stone crusher Irwan.

Tidak lama kemudian seseorang berinisial Er mengaku mendapat kuasa penarikan stone crusher dari Ku, padahal Irwan sama sekali tidak mengenal orang tersebut. Saat itu Er sempat menunjukan beberapa dokumen, namun menurut Dadang terdapat kejanggalan dalam berkas yang ditunjukkan.

“Dalam dokumen perjanjian disebutkan seseorang yang bernama Ku mengadakan perjanjian sewa alat stone crusher dengan orang yang bernama Anggara B Santoso dan alat tersebut akan digunakan di Desa Jenawi Karanganyar. Dalam surat kuasa penarikan tertulis lokasi alat ada di Desa Jambeyan Sambirejo Sragen jelas sekali, sebenarnya itu dua alat yang berbeda mengingat jarak yang cukup jauh antara Jenawi dengan Jambeyan,” ungkapnya.

Dadang menambahkan ketika peristiwa itu terjadi terlihat ada anggota kepolisian. Akibat kejadian itu Irwan menderita kerugian lebih dari Rp 15 milliar. Irwan segera melaporkan peristiwa ini ke Polda Jateng, setelah niatnya untuk melaporkan kasus tersebut melalui salah satu saksi dan kades setempat ditolak oleh Polsek Sambirejo dan Polres Sragen.

Dadang menambahkan sebenarnya sudah dapat menerima dengan satu pasal saja dikenakan yang termuat dalam laporan itu. Apabila melihat uraian peristiwa yang dialami Irwan, mestinya pasal yang lebih tepat tidak hanya pasal 362 KUHP saja tetapi juga ditambah jo pasal 363 KUHP jo pasal 406 KUHP jo pasal 55 KUHP jo Pasal 167 KUHP jo pasal 170 KUHP dan nyata peristiwa ini adalah Tindak Pidana Pencurian dan Pengrusakan yang dilakukan oleh segerombolan orang.

Oleh karena itu, Dadang mendorong Kapolri untuk mencari sebab utama ditolaknya laporan kliennya. Ia menegaskan, pihaknya merasa senang jika kasusnya diambil alih langsung ke Mabes Polri.

“Kepada siapa lagi kami harus mengadu dan berteriak jika tidak kepada Kapolri sebagai pimpinan tertinggi polisi. Pernyataan beliau di televisi itulah yang mendorong kami untuk berani bersuara,” tegasnya. (Van)

BERITA REKOMENDASI