Hakim Tak Dapat Menerima Gugatan Celeg Partai

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Sleman tak dapat menerima gugatan yang diajukan Supardiyono terhadap Ir Andreas Purwanto. Majelis hakim beranggapan permasalahan antara pelapor dan terlapor merupakan perkara khusus yang penyelesaiannya masuk ranah peradilan tentang sengketa pemilu legislatif (pileg).

“Mengacu pada putusan MK, maka gugatan kami nyatakan tidak dapat diterima,” tegas Ketua Majelis Hakim, Adi Satria Nugroho SH dalam persidangan yang digelar di PN Sleman, Selasa (07/01/2019), 

Menanggapi vonis hakim, Supardiyono melalui kuasa hukumnya Oncan Poerba SH dengan tegas menyatakan banding. “Masih ada kesempatan bagi kami selama 14 hari untuk mengajukan upaya hukum banding,” tegas Oncan Poerba ditemui usai persidangan.

Sedangkan kuasa hukum Andreas Purwanto, PK Iwan Setiawan SH mengaku sejak awal telah optimis kliennya bakal memang dalam persidangan ini. Pasalnya gugatan yang dilayangkan cacat formil.

"Gugata tersebut seharusnya masuk dalam peradilan sengketa pemilu, bukan di PN Sleman. Apresiasi bagi hakim yang dalam hal ini telah proporsional dan profesional," katanya.

Kasus ini bermula saat Supardiyono dan Andreas Purwanto sama-sama 
maju pencalonan sebagai caleg dalam pilkada 2019. Bersama dalam Dapil 3 Kalasan Sleman, Supardiyono mendapat nomor urut 1 dan Andreas Purwanto nomor 6.

Selama masa kampanye, Supardiyono mengaku telah memasang alat peraga berupa gambar dirinya di sejumlah tempat strategis di Dapil 3. Namun seiring berjalannya massa kampanye dijumpai baliho bergambar Andreas Purwanto menutupi alat peraga Supardiyono yang kemudian dipermasalahkan.

Upaya mediasi dalam intern partai telah dilakukan, namun mengalami jalan buntu. Selanjutnya Supardiyono melayangkan gugatan dan serangkaian sidang telah digelar, tetapi akhirnya majelis hakim tak bisa menerima gugatan tersebut. (*)

 

BERITA REKOMENDASI