Ingin Dipertemukan Anaknya, Ibu Malah Jadi Terdakwa

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Berniat memperjuangkan haknya sebagai ibu yang dipisahkan dari anaknya, Adina Ersa malah menjadi pesakitan. Ia justru dilaporkan sendri oleh suaminya, Arnold Dwi Novrianton atas dugaan telah melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebagaimana diatur dalam pasal 45 ayat 1 Undang-undang RI no 23 tahun 2004. Adina didakwa telah melakukan kekerasan dan menelantarkan anak kandunya sendiri RYA yang masih berusia 3 tahun.

Kuasa hukum terdakwa, Zulfikri Sofyan SH dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Sleman dengan agenda pembacaan eksepsi mengatakan sebelumnya Adina telah melaporkan suaminya terlebih dahulu di Polres Sleman pada 16 September 2020 silam. Pasal yang dituduhkan yakni pasal 45 ayat 1 Undang-undang RI no 23 tahun 2004 tentang penghapusan KDRT.

Selang sebulan kemudian pada tanggal 26 Oktober 2020 giliran suaminya melaporkan Adina di Polda DIY dengan pasal yang sama. Walau Andina melaporkan duluan, namun justru laporan suaminya yang lebih cepat diproses hingga akhirnya kasus ini bergulir di persidangan dan menyeret sang istri sebagai terdakwa.

“Seharusnya laporan saudara Arnold Dwi Novrianto nomor LP-B/0621/X/2020/DIY/SPKT pada tanggal 26 Oktober dengan tuduhan dan pasal yang sama dihentikan atau ditangguhkan, menunggu penyelesaian laporan polisi nomor LP-B/575/IX/2020/DIY/Sleman tanggal 16 September 2020 berkekuatan hukum tetap. Dengan demikian dakwaan Jaksa dapat dikatakan prematur,” kata Zulfikri Sofyan dalam persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Suratni SH, Kamis (06/05/2021).

Ia menambahkan dalam Undang-undang tentang Perlindungan Saksi dan Korban menyatakan saksi korban, saksi pelaku serta pelapor tidak dapat dituntut secara hukum. Baik itu secara pidana maupun perdata atas kesaksiannya atau laporannya, kecuali kesaksiann atau laporan tersebut tidak dengan itikad baik.

Zulfikri Sofyan nenegaskan terdakwa dalam hal ini sebenarnya merupakan saksi korban. Merujuk pada Undang-undang tentang Perlindungan Saksi dan Korban maka hakim wajib menunda melakukan pemeriksaan, mengadili dan memutus perkara ini.

Dalam eksepsinya Zulfikri Sofyan menyatakan terdakwa merupakan pemegang hak asuh terhadap anak kandungnya yang terurai dalam putusan Pengadilan Agama Sleman no 787/Pdt.G/2020/PA.Smn. Hal itu masih dikuatkan lagi dengan putusan Pengadilan Tinggi Agama Yogyakarta no 66/Pdt.G/2020/PTA.Yk mengenai hak asuh anak.

“Namun sejak Maret 2020 hingga sekarang anak RYA dipisahkan secara paksa dari ibu kandungnya yaitu terdakwa sebagai pemegang hak asuh anak. Bahkan anak RYA dibawa berpindah-pindah kota dan diasuh oleh pihak ketiga bukan ayah kandungnya, hal ini pula yang menjadi dasar terdakwa melaporkan saudara Arnold Dwi Novrianto ke Polres Sleman atas kekerasan psikis kepada terdakwa,” kata Zulfikri Sofyan didampingi Ivan Bert SH dan Tidar Setiawan SH.

Tim kuasa hukum meminta majelis hakim untuk menerima eksepsi terdakwa dan menyatakan batal demi hukum surat dakwaan jaksa. Selain itu kuasa hukum meminta hakim membebaskan terdakwa dari segala dakwaan atau setidaknya melepaskan dari segala tuntutan hukum.

Menyikapi eksepsi ini, JPU Lintang SH akan memberikan tanggapannya. Sidang dilanjutkan pada Rabu (19/05/2021) dengan agenda mendengarkan tanggapan jaksa atas eksepsi terdakwa. (Van)

BERITA REKOMENDASI