Jaksa Berkeyakinan ‘Kutu Kupret’ Ditujukan Kepada Ketua Apkomindo

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Sidang kasus pencemaran nama baik terhadap Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo), Ir Soegiharto Santoso alias Hoky dengan terdakwa FI kembali digelar Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta, Kamis (19/12/2019). Ageda sidang kali ini yakni pembacaan replik dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menanggapi pledoi terdakwa yang dibacakan dalam persidangan sebelumnya.

Retna Wulaningsih SH dalam repliknya menegaskan jaksa penuntut tidak mendakwa FI dengan pasal 45 ayat 1 junto pasal 27 ayat 3 UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Melainkan mendakwanya dengan pasal 45 ayat 3 junto pasal 27 ayat 3 UU RI nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Dalam persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Ida Ratnawati SH ini jaksa menegaskan persoalan dalam perkara ini sebenarnya perlu dilepaskan dari kedudukan masing-masing pelapor maupun terdakwa dalam organisasi Apkomindo. Melainkan harus melihat teks pada tulisan dari terdakwa yang diposting di Facebook sebagai tanggapan atau komentar atas postingan Hoky.

"Jadi harus melihat secara utuh, tidak boleh hanya sepotong-potong dalam menilainya. Dalam proses persidangan, sebetulnya dalam pembuktian pun kami sebenarnya sudah berupaya untuk tidak masuk ke dalam persoalan organisasi Apkomindo, karena mengenai kepengurusan Apkomindo bukanlah menjadi bagian utama untuk pembuktian perkara ini," tegasnya.

Retna Wulaningsih dalam repliknya juga menyatakan keterangan dan pengakuan terdakwa baik dalam BAP maupun di muka persidangan jelas mengakui jika dirinyalah yang menuliskan kata 'Kutu Kupret' dalam komentar di Facebook. Sedangkan yang dimaksud dengan 'Kutu Kupret' itu adalah Soegiharto Santoso.

"Sebutan itu sampai 18 kali diulangi dalam komentar lain sebagaimana dapat dilihat dalam Facebook pada akun Soegiharto Santoso maupun Grup Apkomindo. Sehingga sudah sangat jelas komentar tersebut ditujukan kepada siapa, yang tidak lain dan tidak bukan adalah pelapor yaitu saksi Ir Soegiharto Santoso alias Hoky," tambahnya.

Belum lagi didukung oleh alat bukti lainnya dari keterangan saksi-saksi yang memang paham komentar terdakwa tersebut merupakan tanggapan atas postingan Hoky. Hal itu diperjelas pula dengan adanya permohonan maaf dari terdakwa yang ditujukan kepada Hoky.

"Kami pununtut umum dalam perkara ini berkesimpulan tetap dalam pembuktian kami yang telah menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan atau pencemaran nama baik sebagaimana dakwaan," tegasnya.

Majelis hakim akan melanjutkan kembali sidang kasus pencemaran nama baik ini pada Kamis (02/01/2020) mendatang. Agenda sidang yang akan dilaksanakan yakni pembacaan duplik pihak terdakwa untuk menanggapi replik dari jaksa penuntut umum. (Van)

BERITA REKOMENDASI