Kirim Foto Kemaluan, Oknum Polisi Disidangkan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Seorang oknum anggota Polisi yang berdinas Polda Jawa Tengah (Jateng) diajukan ke meja hijau setelah dilaporkan seorang perempuan berinisial SDM (44) warga Wirobrajan Yogyakarta yang masih saudaranya sendiri. Ipda SD dilaporkan setelah sebelumnya menulis pesan berisi kata-kata cabul melalui WhatsApp dan mengirimkan gambar tidak senonoh terhadap pelapor. Sidang  perdana kasus ini digelar di Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta, Kamis (17/10/2019) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi.

Sidang yang digelar tertutup tersebut dipimpin Ketua Majelis Hakim, Agus Nazaruddin SH dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Astuti Widayati SH dan dihadiri langsung baik oleh pelapor maupun terlapor. Dalam sidang ini hakim meminta keterangan SDM sebagai pelapor, HK (45) suami pelapor dan anggota Propam Polresta Yogyakarta  Iptu Timbul Sasana Raharja.

Ditemui usai sidang, suami korban menceritakan kasus yang menimpa istrinya itu. Semua berawal pada tahun 2016 saat istrinya mendapat pesan singkat dari Ipda SD melalui WhatsApp. Layaknya saudara, pesan berisi perihal menanyakan kabar maupun seputar informasi tentang keluarga besar.

“Namun lama kelamaan isi pesan mulai berisi kata-kata yang tidak pantas. Istri saya tak menggubrisnya, namun ia (Ipda SD) terus merayu dengan kata-kata cabul. Bahkan ia juga mengirim sebanyak dua kali foto alat kelaminnya sendiri ke ponsel istri saya,” ungkap HK didampingi istrinya.

Awalnya HK dan istrinya tak menyangka jika Ipda SD yang tinggal di Asrama Polisi Polda Jateng di Semarang itu akan melakukan hal tersebut. Korban saat itu sempat membalas dan menuliskan apakah pesan tersebut tidak salah kirim, namun Ipda SD justru mengancam dan mengatakan agar SDM tidak usah menceritakan perihal foto tersebut kepada Bude (istri Ipda SD) maupun HK sang suami.

“Saat itu itu kami masih berpikiran positif, jangan-jangan HP miliknya sedang dibajak orang lain yang iseng. Lalu saya mengatakan kepada istri, untuk memastikan semua itu maka harus dibuktikan agar ia mau datang ke Yogya,” tambahnya.

Suami istri ini menyusun rencana untuk membuktikan apakah yang menghubungi selama ini benar-benar Ipda SD atau bukan. Akhirnya HK meminta istrinya untuk membalas pesan dari Ipda SD itu dan menerima ajakan bertemu di Yogya.

Pada percakapan dalam pesan singkat itu, Ipda SD minta dipesankan kamar hotel dan bertemu dengan korban di sana. Korban kemudian booking salah satu kamar hotel yang terletak di Jalan HOS Cokroaminto Yogyakarta.

Keesokan harinya Ipda SD telah berada di kamar tersebut, sedangkan korban dan suaminya beserta anggota Propam Polresta Yogyakarta bersiap melakukan penangkapan. HK menyuruh istrinya untuk menemui Ipda SD di kamar, sementara ia dan anggota Polisi menunggu di parkiran kendaraan.

“Saat masuk kamar, ia sudah dalam kondisi setengah telanjang di belakang pintu. Istri saya lalu ditarik dan dijambak lalu dibredel. Istri saya berhasil meloloskan diri dan menemui kami di parkiran. Kemudian saya dan anggota Propam menuju kamar lalu Polisi menangkap untuk membawanya ke Polresta Yogyakarta,” ungkap HK.

Atas apa yang dialaminya itu korban segera menempuh jalur hukum dengan melaporkan Ipda SD ke Polda DIY untuk kasus pidana tentang ITE, pornografi dan percobaan pemerkosaan. Sedangkan untuk pelanggaran kode etik Kapolisian, ia melaporkannya ke Propam Polda Jateng tempat Ipda SD berdinas.

"Sebenarnya kami ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluarga, cukup ia datang untuk meminta maaf kepada kami dengan disertai istri dan anaknya itu saja sudah cukup. Namun tetap tak ada itikad baik darinya, akhirnya kami melaporkan kasus  ini ke jalur hukum," terangnya.

Usai persidangan, JPU Astuti Widayati SH menegaskan apa yang dilakukan terdakwa telah memenuhi unsur-unsur pidana. Hanya saja jaksa tak dapat memasukan pasal tentang percobaan pemerkosaan karena tidak cukup bukti. “Upaya pemerkosaannya tidak masuk karena tidak ada bukti, hanya ITE serta pornografinya saja,” kata Astuti Widayati.

Ipda SD akan didakwa dengan pasal 45 ayat 1 junto pasal 27 ayat 1 Undang-undang RI nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang RI nomor 11 tahun 2008 tentang ITE. Selain itu juga pasal 29 Undang-undang RI no 44 tahun 2008 tentang pornografi. (Van)

BERITA REKOMENDASI