Modus Baru, Pelaku Gunakan Resep Dokter untuk Edarkan Pil Koplo

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Tersangka peredaran pil koplo asal Dukuh Wonokerso Rt 02/Rw III Desa Wonolopo Kecamatan Tasikmadu, Gunawan Pramusinto (31) menjual sebagian barangnya beresep dokter. Polisi menyelidiki modus anyar peredaran ilegal obat penenang itu.  

"Biasanya, pelaku peredaran pil koplo membeli secara online. Tapi dari barang bukti yang disita polisi, ada obat yang dibeli pelaku beresep dokter. Obat itu ia jual dalam paket ribuan pil-pil koplonya," kata Kapolres Karanganyar AKBP Henik Maryanto kepada wartawan dalam gelar barang bukti kasus psikotropika di Mapolres, Jumat (23/2/2018).

Obat penenang beresep dokter itu sebanyak 10 butir merek Riklona 2 Clonazepam. Barang bukti tersebut disita dari tersangka di rumahnya pada 6 Februari 2018 berikut 317 butir tablet warna putih berlogo Y, empat bungkus platik berisi masing-masing 1.000 butir tablet berlogo Y, 87 butir tablet kemasan warna silver bertuliskan calmlet alprazolam, bungkus platik dan botol pil kosong serta uang tunai Rp 180 ribu.

Berdasarkan penyidikan, tersangka membeli pil koplo tersebut secara online dari seseorang bernama Prasetyo asal Bandung, Jawa Barat. Bermodal Rp 10 juta, ia memperoleh lima toples berisi masing-masing 1.0000 pil koplo merek tertentu. Tersangka kemudian menjualnya secara eceran, yakni Rp 30 ribu per 10 butir. Dari pembelian 5 toples itu, ia telah menjual sekitar 600 butir ke pengguna.

Sementara itu tersangka menolak dituduh menjualnya ke pelajar. Ia berani menjamin hanya orang dewasa saja pembelinya.

"Enggak jual ke anak-anak kok. Per plastik kecil isi 10 butir dijual Rp 30 ribu," katanya.

Mengenai obat penenang beresep dokter yang dijualnya, ia mendapatkan itu dari apotek setelah sebelumnya memeriksakan diri. Kepada dokter, ia mengeluh sakit kepala dan sulit tidur. Obat yang seharusnya dikonsumsinya malah dijual bebas.

"Obat penenang resep dokter itu saya tebus Rp 155 ribu isi 10 butir. Lalu tak jual lagi laku Rp 255 ribu. Jadi laba Rp 100 ribu," katanya.
Terkait kasus peredaran pil koplo, Polres Karanganyar berkoordinasi ke BNN dan Kementrian Kominfo. Sebab, modus penjualan pil tersebut umumnya lewat pasar online.

Atas kejahatannya, tersangka dijerat pasal 62 UURI no 5 tahun 1997 tentang Psikotropika dan primer pasal 196, subsider pasal 197. Lebih subsider pasal 198 UURI no 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Ancaman hukumannya pasal psikotropika maksimal 5 tahun sedangkan pasal kesehatan maksimal penjara 10 tahun. (Lim)

 

BERITA REKOMENDASI