Ngaku Bos Toko Batik, Pria Ini Gondol Rp 178 Juta

SLEMAN, KRJOGJA.com – Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda DIY mengamankan DH (41) atas tindak kasus penipuan online. Tak tanggung-tanggung pelaku mengeruk uang korbannya sebesar Rp 178 juta rupiah. 

"Pelaku adalah warga Kalasan, Sleman. Pelaku mantan driver dari toko batik dan souvenir di Yogyakarta," kata kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto saat jumpa pers di Mapolda DIY, Senin (12/08/2019).

Untuk melancarkan aksinya, pelaku menyamar sebagai pengusaha batik dan souvenir di wilayah Yogyakarta. Sehingga dengan mengaku sebagai pemilik galeri batik, dapat memperdaya korbannya percaya bahwa pelaku adalah orang kaya.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda DIY Kombes Pol Tony Surya Putra mengatakan, peristiwa bermula saat DH mengajak korbannya JH (inisial). Pelaku menawarkan kerjasama bisnis untuk membuat showroom.

"Ternyata korban ini tidak mengecek siapa si pelaku. Dia percaya saja bahwa dia adalah bosnya," jelasnya.

Pada bulan Maret kemarin, hanya melalui percakapan WA pelaku membuat percaya korbannya dengan melakukan bujuk rayu dan menawarkan kerjasama usaha showroom jaul beli kendaraan. Korban ditawari keuntungan 30 persen.

"Pelaku mengajak bisnis untuk buka showroom, lalu ada kesepatakan melalui WA. Korbannya diminta transfer sejumlah uang totalnya Rp 178.500.000," ucap Utomo.

Dari keterangan korban, mengaku bahwa hingga sekarang showroom tersebut ternyata fiktif tidak ada wujudnya. Korban melapor dan selanjutnya polisi mengamankan pelaku.

Saat dimintai keterangan, oleh tersangka, uang hasil penipuan hanya dipakai untuk keperluan judi online saja. Dari tangan pelaku, polisi mengamankan satu rekening BCA, dan ponsel. 

"Ini perlu melakukan penegakan hukum terhadap pelaku penipuan. Agar tidak ada lagi masyarakat khususnya Yogya yang menjadi korban penipuan. Masyarakat tolong jangan mudah tergiur," terangnya.

Saat ini Polda DIY telah melakukan penahanan kepada pelaku. Tersangka dijerat dengan dengan pasal 45a ayat 1 jo pasal 28 ayat 1 UU nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU nomor 11 tahun 2008. Ia dijerat dengan pasal yang berkaitan dengan menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian dalam transaksi elektronik dengan ancaman hukuman penjara enam tahun. (Ive)

BERITA REKOMENDASI